Monday, May 16, 2016

Remembering Pikoro, The One and Only..

Pikoro adalah satu-satunya anjing pribadi yang pernah saya pelihara. Pikoro adalah anak satu-satunya dari induk Gargamel seekor anjing spaniel putih hitam yang sangat cantik, dan pejantannya entah siapa. Gargamel, atau yang biasanya dipanggil Memel oleh sepupu-sepupu saya, adalah ibu kandung yang lebih mirip ibu tiri di film-film tentang ibu tiri yang kejam. Memel sejak dari melahirkan sama sekali tidak mau menyusui anak tunggalnya ini, dan setelah berusia beberapa minggu, suka menggigitnya, sehingga akhirnya Pikoro pun dihibahkan untuk saya.

Saya yang mengurusnya sejak saat itu dan dia jadi mainan yang menyenangkan, bahkan tidur pun sama-sama di atas tempat tidur dan selalu satu bantal. Lucunya lagi, dia juga suka tidur telentang, bukan tengkurap seperti anjing-anjing pada umumnya. Sehingga akhirnya oleh adik-adik saya, dia dianggap anjing yang tidak mau mengaku sebagai anjing dan mereka memangggilnya mahluk Pikoro. Demikianlah waktu berlalu, Pikoro yang bulunya hitam legam, dengan ada sedikit sekali warna coklat di alisnya (kalau anjing punya alis), kemudian menjadi pendamping setia saya di rumah. Dimana ada saya, pasti ada Pikoro. Dia juga seekor betina yang sombong. Beberapa kali saat musim kawin, beberapa ekor pejantan yang naksir Pikoro nekat nyelonong masuk ke rumah, tapi tidak satu pun berhasil memaksakan birahi mereka atas Pikoro. Dia mempertahankan diri dengan tetap duduk, sama sekali tidak bisa didongkel untuk melakukan doggy-style wakakaaa.... sambil tidak berhenti menggeram dengan nada sangat mengancam. Sampai usianya 5 tahun di tahun 2003, Pikoro tetap perawan tingtong.

Kemudian, desember 2003, ketika ayah saya meninggal, Pikoro menghilang. Saya menyadari dia tidak ada sejak kami pulang dari memakamkan papa. Perasaan saya mengatakan dia dicuri orang saat kami sedang sibuk-sibuk saat itu. Tiga tahun kemudian, 2006 saat kami sedang sibuk menyiapkan pernikahan adik saya, tiba-tiba seekor anjing kecil, bulunya masih lebat tetapi seperti tak terurus mondar-mandir di depan pagar lalu nekad menyelinap masuk. Saat itu, kami punya pembantu, namanya panggilannya Nah. Si Nah berusaha mengusirnya tetapi dia tidak mau pergi, malah galakan dia daripada si Nah sehingga Nah pun membiarkan dia menunggu di depan pintu ruang tamu. Saat mama saya datang untuk melihat keributan yang terjadi, mama langsung mengenali Pikoro. Sayangnya, reunian ini tidak berlangsung lama, satu atau dua minggu setelah kedatangannya, Pikoro mati. Mungkin, dia nekad pulang untuk mati di rumah dimana dia dibesarkan, mungkin...

Gambar paling awal di atas sana itu, adalah coretan awal saya di hari minggu yang lalu, saat tiba-tiba saja ingat Pikoro yang tengil dan jutek. Katanya, seekor anjing biasanya mirip-mirip sifatnya dengan tuannya, haha... Ya gitu deh.. Dari corat-coret itu kemudian saya lanjutkan saja sampai bentuknya jadi agak-agak mirip dengan Pikoro. Kalau pun sama sekali nggak mirip, setidaknya bulu hitamnya mewakili bulunya Pikoro. Apakah anjing-anjing juga pergi ke surga? Katanya, anjing tidak memiliki roh (soul) seperti yang dimiliki manusia, sehingga saat mereka pergi, itulah akhir kehidupan mereka, mereka tidak perlu kuatir soal surga dan neraka. Entahlah...

Thursday, May 12, 2016

Stay Single and Stay Happy, Bisakah? Bisa Dong, Gimana Caranya?

Hai, jomblo-ers! Malam minggu ngapain aja? Masak truk saja punya gandengan tapi kamu enggak, ngenes bener, mblooo! Akrab kah kamu dengan guyonan semacam itu? Yang kalo orang yang kena tamparan bereaksi lalu diejek lanjutan sebagai nggak woles, nggak selow katanya. Eniwei, tau nggak kamu kalo truk gandeng itu berat, hahaha... Iya oi, walopun gimana, truk gandeng itu berat, dan bisa bikin rusak jalan raya yang udah diaspal dengan mulus, makanya rutenya mereka itu nggak boleh masuk kota jalan utama, kudu mutar lingkar luar kota, sebab mereka membawa kerusakan-kerusakan pada jalan dalam kota yang memang enggak dirancang buat wara-wiri para truk gandeng itu, tapi dirancang untuk jadi ajang macet mobil-mobil dan motor-motor non-gandeng. Jadi, siapa bilang jadi truk gandeng itu menyenangkan?

Banyak sekali masalah atau potensi masalah dalam pernikahan. Ya, banyaknya masalah dalam pernikahan, jauh melampaui masalah masa-masa lajang. Jadi, ketika masih melajang, atau belum punya pacar, jangan cepat-cepat merana, tunda sampai kalian menikah dulu dan lihat hasilnya, hahahaa... Maksud saya, tahukah kamu bahwa menikah itu lebih berat daripada melajang? Berada dalam pernikahan adalah sebuah kerja keras, untuk membuat pernikahan berjalan dengan lancar dan selalu baik-baik saja. Apalagi kalau ternyata memperoleh pasangan yang makin lama bukan makin terasa dekat tetapi makin terasa jauh dan berbeda daripada sewaktu masih berpacaran. Dan yang semacam ini, banyak terjadi, itu sebabnya, perceraian juga banyak terjadi.

Apapun dapat terjadi ketika sudah berumahtangga, seoptimis apapun awal mula memasukinya. Karena itu, jangan mengira bahwa menikah adalah akhir dari segala masalah. Masalah, nggak akan pernah ada akhirnya. Masalah akan selalu ada, apakah kamu single atau kamu double atau (god forbid) terpaksa triple atau kwartet. Maka, nikmati masa kamu hanya punya masalahmu sendiri, bukan harus ikut menanggung masalah suami, masalah ipar, masalah mertua, masalah anak, dan berbuntut-buntut masalah yang akan kamu hadapi saat kamu sudah digandeng orang. Masa-masa single adalah masa dimana kamu seharusnya paling menikmati kehidupan untuk diri sendiri, melakukan hal-hal yang memang ingin kamu lakukan dan menikmatinya, sebab masa-masa itu mungkin akan segera berlalu, sehingga bila kamu tidak menikmatinya sekarang, kamu akan menyesalinya nanti. Penyesalan itu yang bisa menjadi salah satu dari sekian masalah yang timbul ketika kamu tak lagi sendiri.

Baiklah tante G, terus gimana caranya agar tidak menjadi jomblo ngenes? Hehe.. Ya jangan mau dikata-katain jones, sebab tahukah kamu bahwa ada banyaaak sekali keuntungan selama kamu masih single. Hal-hal ini sebetulnya bukan hal baru, tapi mungkin saja karena kita terlalu terpaku pada pertanyaan: kapan kawin? kapan kawin? kapan kawin? maka kita lupa bahwa, ada berbagai benefit yang sebetulnya kita (dapat) nikmati kalau saja kita memanfaatkannya secara sadar:

1. Bepergian. Yes! Sebagai seorang jomblo bahagia, apa yang menghalangimu traveling dengan teman-teman begitu ada dana? Kamu nggak perlu memikirkan ijin suami atau istri, tak perlu bayar uang sekolah anak, jadi, bila danamu ada dan keinginan untuk jalan-jalan sedang menggebu-gebu, ya cusss ajalah pergi tanpa beban.

2. Bergenit-ria. Apa salahnya tebar pesona? Kamu justru masih bisa melakukan hal itu dengan aman dan halal. Kamu masih bebas, belum terikat dengan siapa-siapa, tidak ada salahnya justru untuk membebaskan dirimu berkencan dengan siapapun yang sesuai untukmu.

3. Mengurus diri sendiri. Lebih mudah mengurus diri sendiri saat masih sendirian. Rajinlah merawat kulit dan berolahraga. Sebab setelah menikah dan punya anak, kemungkinan besar akan lebih banyak waktu dihabiskan dengan mengurus anak dan suami.

4. Tidur dengan nyaman. Terpikir nggak gimana kamu akan lebih terganggu tidurnya kalau sudah menikah nanti? Jadi, selama masih single, kuasai tempat tidur dan tidurlah seenak-enaknya, senyenyak-nyenyaknya.

5. Punya banyak waktu untuk membaca atau melakukan hobi yang lain. Hal ini penting untuk disadari saat sekarang ini. Kemungkinannya kamu akan harus meninggalkan hobi tertentu ketika sudah menikah, dan baru bisa melanjutkan kembali bertahun-tahun kemudian ketika sudah punya waktu lagi. Tahukah kamu berapa banyak ibu-ibu dan bapak-bapak yang menjerit-jerit mereka memerlukan me time? Jadi, mengapa tidak sekarang saja temukan hobi dan eksplorasi sepuas-puasnya kegiatan-kegiatan yang menarik bagimu. Mungkin saja hobi itu bisa menjadi sebuah usaha yang menguntungkan?

6. Melatih diri lebih mandiri. Pernah lihat drama dimana seorang ibu menjerit-jerit panik karena genteng bocor atau anaknya panas tinggi sedangkan suami sedang di kantor dan dia bingung sendiri? Atau bapak-bapak yang ga berdaya saat ditinggal istri, nggak bisa masak nasi, nggak bisa bikin teh, pokoknya tragis karena kebodohan sendiri. Nah, (kelebayan kayak gitu) itu tuh, jangan sampai terjadi sama kita-kita. Ayo belajar untuk mandiri, kerjakan apa yang memang bisa dikerjakan, sebab pada saat sudah menikah atau saat nyatanya nggak menikah-menikah, kemandirian ini akan sangat menolong bagi kita sendiri dan orang-orang di sekitar kita.

Tau nggak sih, menulis semua ini di sini membuat saya sendiri jadi semangat, hahahaaa... Life is great! Really. Selama kita memanfaatkannya dengan sebaik mungkin, apanya yang tidak menyenangkan? Sama sekali tidak ada alasan untuk menjadi ngenes, apapun status kita, selama kita bisa melihat benefitnya dan melakukan tindakan-tindakan yang sesuai dan tepat. Life is not that hard, we just have to live smarter.

Nah sekarang, cobain deh, lakukan beberapa hal berikut ini:

1. Rencanakan membuat mega kado untuk diri sendiri pada kesempatan-kesempatan khusus, misalnya pada saat ulang tahun, hadiahkan sebuah perjalanan ke tempat wisata yang menyenangkan. Mengapa tidak? Kamu pantas mendapatkannya.

2. Seminggu atau sebulan sekali buat acara movie date atau eating out ke resto yang keren untuk diri sendiri. Me time semacam ini lebih baik dipuas-puasin sekarang daripada menjerit-jerit kemudian.

3. Cari hobi baru atau dalami hobi lama dengan ikut klub tertentu sesuai dengan minatmu.

4. Belajar keahlian baru: memasak, membuat kue, menjahit, berkebun, montir, disain interior, dan banyak lagi.

Yang membuat hidup menjadi membosankan adalah saat kurang kegiatan. Tapi yang membuat hidup terasa hectic adalah ketika punya terlalu banyak kegiatan yang tak jelas apa gunanya. Karena itu pilih dengan baik kegiatan-kegiatan kita dan nikmati apa yang sedang kita lakukan. Stay single and stay happy? Why not!

Monday, May 02, 2016

Tante G Sedang Apa??? Sedang Belajar Kode-kode Buat Mempercantik Blog!

Kalau ada yang bertanya-tanya, itu si tante mbak miss G kenapa belakangan-belakangan ini kok malah nulis soal dongeng ala eropah dan segala model teori kayak sok iya aja, apakah blognya kena sambet hack? Kagaaak! Itu sebagian dari personaliti saya yang lain. Kan udah tau, saya mah orangnya gitu, random abis, wahaha.. ya nasib. Terima aja, selama bikin awet muda mah, kenapa ditolak *lalu setrika muka sampe alus* iyeh. Jadi, kenapa gitu saya ini malah posting-posting tentang dongeng-dongengan, sebab saya sedang belajar kode html, css, java. Iya kan, nggak nyambung kan? Sebab emang nggak nyambung, belajarnya apaan, yang dipostingin apaan. Iye, sebab yang kode-kode itu kan belom tuntas ya, masih usaha. Baru beberapa yang udah dipraktekin di blog sendiri. Udah berhasil bikin web sederhana juga, jadi sedikit banyak ngerti bahasa ajaib pas buka Edit HTML di dashboard.

Sebagian cita-cita luhur saya sih emang iya, emang bikin blog cantik untuk diri sendiri. Haish, egois bener elu G. Lha, kalo enggak ada yang nawarin (gratis) untuk bikinkan blog sesuai selera, ya usaha kaleee... Jomblo eh Lajang emang gitu bawaannya, harus mandiri mandi memang sendiri, nggak ada yang mandiin.

Okeh balik lagi ke belajar kode-kode itu, ternyata asyik banget. Bener-bener jadi keasikan sendiri dan imbasnya adalah nggak banyak waktu lagi buat ngegosipin apaan tau di fesbuk *sedih, perih, pedih sekalih*. Siang malam yang kepikiran gimana bisa bikin kombinasi kode yang bersih. Sebab buka-buka beberapa blog cantik, ternyata layout-nya amburadul, wwkwkw *baru ngeh deh sekarang*, jadi ngerti kenapa itu para geek selalu menekannya untuk bikin a good and clean code, supaya tampilan dalam dan tampilan luar sama-sama cantik. Tapi eh tapi, saya mah belum sampe ke sana, cuma baru bisa mengamati belum bisa menghasilkan yang mendekati setengah dari yang sudah saya bedah diam-diam itu. Tenyata selain harus lebih gape lagi di html, css dan java masih ada yang lain-lain yang harus juga saya kuasai kalau ingin membuat tampilan blog yang interaktif dan sebagainya dan sebagainya *usap peluh, perbanyak makan bapang dan ngetreadmil* tapi nih, kalo baca-baca diskusi-diskusi dan testimoni beberapa blogger yang sekarang udah jago ngedisain blog/web, cuma diperlukan waktu sekian bulan untuk jadi cukup ahli atau paling-paling apes ya ngerti deh mau ngapain aja pas buka template.

Apalagi yaaa yang saya peroleh dalam petualangan saya memanfaatkan internet beberapa waktu belakangan ini... emmm.. Iya, saya jadi ngerti bahwa world wide web ini ternyata dulunya tempat para akademisi saling kirim mengirim dokumen. Ternyata ini tempat serius. Pantesan aja, Mark, Bill dan Steve, para geek ngetop itu tidak aktif-aktif amat di jaringan sosial, sebab memang mereka nggak melihat jaringan itu untuk saling berhubungan seperti yang kita kenal, ketahui dan pergunakan pada saat ini. Mereka kayaknya terhindar dari penyakit jiwa terpopuler saat ini: F(ear)O(f)M(issing)O(ut), sebab mereka fokus menerima yang relevan aja buat kerjaannya, beda sama keriangan kita yang 24/7 kudu saling terhubungkan atau menghubung-hubungkan walaupun nggak ada hubungannya (itu mah elooo kali G, wkwkwk).

Sebenernya banyak yang mau saya tulis dengan sok tau, dan mau juga menambahkan beberapa sumber yang menurut saya sangat membantu dalam menambah pengetahuan saya tentang template blog. Tapi, berhubung banyak banget, jadi perlu waktu untuk sortir dulu, supaya yang masuk daftar memang relevan dan up to date.

Untuk sementara ini, itu dulu ocehan saya tentang apa yang sedang saya lakukan pada saat ini. Kalau petualangan saya berhasil, di bulan Juni nanti, saat ulang tahun saya (kasih kado yaaaa), bakal ada sesuatu give away gitu deh. Sama, saya jadi kepikiran bikin blog satu lagi inih... *nggak kapok-kapok* khusus buat play ground beginian. Atau... ah liat nanti aja deh. Untuk saat sekarang, dongeng dan kode-kode adalah keasikan terkini yang masih memikat.

Friday, April 29, 2016

Membaca dan Menganalisa: The Blue Light. Siapa Protagonisnya? Siapa Antagonisnya? Siapa Korbannya?

The Blue Light atau Lentera Api Biru adalah versi Grimm Bersaudara dari sebuah cerita rakyat yang bisa dikatakan ditiru oleh Andersen dalam dongengnya Fyrtoejet atau The Tinderbox.

Pada abad ke-19 munculnya aliran Romantisme membangkitkan kembali ketertarikan pada cerita rakyat. Dua bersaudara Grimm, Jacob dan Wilhelm, yang adalah pakar bahasa, periset budaya dan penulis Jerman, mengkhususkan diri untuk mengkoleksi dan menerbitkan cerita rakyat Jerman. Antara tahun 1812 dan 1857, koleksi perdana mereka direvisi dan diterbit-ulang berkali-berkali, sehingga berkembang dari 86 cerita menjadi 200 cerita. Grimm bersaudara inilah yang mempopulerkan cerita-cerita seperti Cinderela, The Frog Prince, The Goose-Girl, Hansel and Gretel, Rapunzel, Sleeping Beauty dan Snow White.

The Blue Light adalah salah satu dari dongeng yang dikumpulkan oleh Grimm Bersaudara. Dongeng ini merupakan variasi dongeng Aladdin dari kisah Seribu Satu Malam atau The Arabian Nights. Koleksi dongeng-dongeng Arab dan Persia diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis pada tahun 1704-1717. Dongeng-dongeng itu menjadi sangat populer pada masa tersebut, meninggalkan jejak-jejaknya di alam bawah sadar masyarakat Eropa dan dalam berbagai karya sastra Eropa. Dalam artikel ini, saya mengklaim bahwa dongeng-dongeng Andersen yang khas Eropa dan sebagian kental pengaruh Kristen-nya bisa diterima di seluruh dunia, karena ada kebenaran-kebenaran universal di dalamnya. Demikian pula dongeng-dongeng dari Arab dan Persia yang kental pengaruh dan budaya Islam-nya dapat menembus Eropa dan menjadi sangat populer sehingga mempengaruhi budaya literasi dan alam bawah sadar masyarakatnya. Bayangkan, itulah kekuatan dari cerita.

Di blog Kampung Fiksi, pada setiap hari Jumat saya akan mulai menulis dan meresensi secara singkat dongeng-dongeng dari Eropa yang belakangan ini sedang saya pelajari. Ternyata ada sebuah model yang biasanya dipakai untuk menganalisa sebuah dongeng. Namanya the actantial model. Bentuknya seperti ini:


Selain model actantial ini, struktur cerita dongeng umumnya memiliki pola: Home - Away - New Home. Atau Rumah - Pergi dari rumah - Rumah baru.

Mari kita coba menganalisa The Blue Light dengan mempergunakan the actantial model. Kalau mau membaca dongengnya, yang sudah saya terjemahkan ke bahasa Indonesia, silakan baca di sini: Membaca dan Mereview Dongeng: The Blue Light. Di sini saya hanya akan menceritakan kembali secara singkat jalan cerita dongeng tersebut.

Ada seorang prajurit yang setia kepada rajanya tetapi karena luka-lukanya dalam peperangan ia tidak lagi berguna dan dibebastugaskan tanpa diberi uang pesangon. Prajurit ini lalu berjumpa dengan penyihir dan diberi tiga tugas sebelum akhirnya memperoleh si lampu biru dan bertemu dengan gnome. Gnome menolong prajurit membunuh penyihir dan membalas dendam kepada raja. Selama tiga malam prajurit memerintahkan gnome untuk menculik putri raja dan menjadikan putri raja sebagai pelayannya. Setelah tiga kali melakukan penculikan, prajurit tertangkap dan hendak dihukum mati. Sebelum dihukum mati prajurit berhasil memanggil gnome yang diperintahkannya untuk menghukum orang-orang yang hendak menghukumnya, termasuk raja. Raja yang ketakutan kemudian menyerahkan seluruh kerajaan beserta pasukannya kepada si prajurit dan memberikan putrinya menjadi istri prajurit.

Apakah dongeng The Blue Light dengan patuh mengikuti model actantial? Apabila dilihat secara sepintas lalu, dongeng ini memang memenuhi unsur-unsur yang ada di dalam model actantial. Mari kita bahas. Pada awal cerita kita langsung dipertemukan dengan si prajurit yang merupakan tokoh utama dan penerima. Prajurit berada di 'rumah' saat ia bersama-sama dengan raja. Tetapi sejak awal cerita dimulai, kita sudah diajak untuk menyaksikan bahwa si prajurit diusir keluar dari rumah tersebut. Dia bertemu dengan halangan pertamanya yaitu si penyihir yang memberinya tiga buah tugas. Tugas-tugas ini kemudian membawanya bertemu dengan penolongnya yaitu si gnome. Gnome membantu prajurit membunuh musuh pertamanya si penyihir. Kemudian, gnome mengerjakan tiga buah tugas untuk prajurit, yaitu selama tiga malam ia menculik putri raja. Ketika prajurit tertangkap dan dipenjarakan, prajurit bertemu dengan penolongnya yang kedua yaitu temannya yang dimintainya tolong untuk mengambilkan api biru. Dengan mempergunakan si gnome, prajurit kemudian berhasil dibebaskan dari hukuman dan raja menghadiahkan kerajaan, pasukan dan putri raja untuk prajurit. Hal ini menjadikan raja sebagai donor sejatinya dan prajurit mendapatkan rumah yang baru.

Kelihatan sangat simple bila mempergunakan the actantial model sebagai acuannya. Dan model itu memang hanya sebagai acuan untuk menganalisa cerita, sebab sebenarnya cerita ini tidaklah sesederhana seperti yang kelihatan.

Pada cerita ini jelas kelihatan si prajurit bukanlah tipe pahlawan ideal. Dia tidak gagah perkasa, sebab luka-luka yang dialaminya di waktu perang rupanya memang membuat tubuhnya lemah sehingga saat harus bekerja dia tak dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan sempurna. Dia juga bukan tipe kekasih yang romantis, caranya memperlakukan putri raja sungguh tegaan dan bengis. Pakai acara culik-menculik pula, sungguh pantas sebetulnya dia masuk penjara, kan? Jelas sekali prajurit ini adalah protagonis yang warnanya abu-abu.

Bagaimana dengan tokoh antagonisnya? Raja dan penyihir sama-sama merupakan tokoh-tokoh antagonis bagi si prajurit, tetapi keduanya juga sama-sama menjadi donor bagi prajurit. Penyihir menjadi donor saat membuat prajurit memperoleh api biru. Sedangkan raja menjadi donor terbesar dalam hidup prajurit karena memberikan istana, pasukan dan istri.

Memang di dalam model actantial tidak disebutkan adanya korban atau yang dikorbankan, hanya disebutkan adanya obyek, yaitu apa yang diperoleh oleh protagonis sebagai penerima. Putri raja masuk dalam kategori sebagai obyek yang diserahterimakan oleh raja untuk menyelamatkan hidupnya sendiri. Putri raja ini yang nampaknya telah menjadi korban dan dikorbankan. Gnome yang berasal dari api biru, selain sebagai penolong ia juga merupakan korban, karena ia menjadi alat yang dipakai oleh si prajurit untuk mencapai keinginan-keinginannya yang bertentangan dengan saran-saran baik dari gnome.

Tuesday, April 26, 2016

Mengapa Dongeng Merupakan Hal Yang Penting dan Dimana Mencari Kebenaran? Dari Christian Andersen, Carl Ewald dan Isabel Allende, Belajar Tentang Gairah Untuk Menemukan Kebenaran Melalui Cerita

Dalam TED-talk berjudul The Tales of Passion, salah satu pengarang novel favorit saya, Isabel Allende yang menjadi pembicaranya, membuka pembicaraan tersebut dengan mengutip sebuah peribahasa Yahudi:

What is truer than truth? Answer: The story. 

Selanjutnya, Allende berkata:

I'm a storyteller. I want to convey something that is truer than truth about our common humanity. All stories interest me, and some haunt me until I end up writing them. Certain themes keep coming up: justice, loyalty, violence, death, political and social issues, freedom. I'm aware of the mystery around us, so I write about coincidences, premonitions, emotions, dreams, the power of nature, magic.

Bagi mereka yang familiar dengan karya-karya Isabel Allende pasti dapat langsung memahami apa yang sedang dibicarakannya. Allende memiliki pendekatan yang unik dalam karangan-karangannya. Pemeran utamanya selalu perempuan-perempuan kuat dan gigih dengan latar belakang yang menarik dan berperan sebagai agen perubahan yang harus berjuang keras melawan tradisi dan norma-norma sosial yang membelenggu perempuan dan mereka yang lemah dan dipinggirkan pada umumnya. Itulah cara Allende untuk menunjukkan kepada pembaca apa yang sedang terjadi dan bagaimana kita dapat berusaha untuk menciptakan keadaan yang lebih baik. Melalui karya fiksinya, Allende mengungkapkan kebenarannya dan mengajak kita untuk sama-sama berkaca sehingga kita bisa melihat mana yang salah dan berusaha untuk membetulkannya.

Hans Christian Andersen, pendongeng terkenal dari Denmark, juga selalu berusaha untuk menunjukkan kebenaran melalui dongeng-dongengnya. Dongeng-dongeng Andersen menjadi begitu terkenal luas di seluruh dunia karena nilai-nilai moral universal yang terkandung di dalamnya. Meskipun dongeng-dongeng Andersen sebetulnya kompleks dan tidak sepenuhnya bisa dikatakan hanya dongeng-dongeng sederhana untuk anak-anak, tetapi kebanyakan orang mengira bahwa dongeng hanya untuk konsumsi anak-anak saja. Padahal Andersen menargetkan dongengnya untuk anak-anak dan untuk para orang tua yang membacakan dongeng-dongeng itu untuk anak-anak mereka.

Mari kita ambil contoh dongeng Den Lille Havfrue atau The Little Mermaid. Dongeng ini bercerita tentang seorang putri duyung yang jatuh cinta kepada seorang pangeran sehingga rela menjual suaranya supaya dapat memperoleh jiwa dan sepasang kaki sehingga ia dapat mengejar lelaki impiannya. Ketika akhirnya ia tak dapat menikah dengan pria yang dicintainya, ia memilih untuk menceburkan diri ke laut daripada membunuh orang yang dicintai. Karena ketulusannya itu ia kemudian berubah menjadi buih-buih ombak. Kisah ini sebetulnya begitu kompleks untuk menjadi cerita anak, sehingga kini The Little Mermaid diadaptasi sedemikian rupa oleh Disney dan menjadi versi yang jauh berbeda dibandingkan dengan versi aslinya.

Apa  yang diungkapkan oleh Andersen melalui dongeng ini yaitu mengenai pengorbanan dan ketulusan, juga kenyataan bahwa dalam hidup ini kita tidak selalu memperoleh apa yang kita inginkan, mungkin tidak dengan mudah dipahami oleh anak-anak. Lalu mengapa dongeng itu justru menjadi dongeng Andersen yang paling terkenal hingga saat ini, disamping dongeng The Ugly Duckling atau Itik yang Buruk Rupa, dan dongeng-dongeng lainnya? Sebab dongeng-dongeng dapat diibaratkan sebagai sebuah pintu tertutup yang kuncinya akan diketemukan oleh anak-anak ketika mereka beranjak dewasa. Dongeng-dongeng yang mengandung kebenaran-kebenaran universal ini, akan melekat erat di dalam pikiran, dan tidak mudah terlupakan.

Sebuah cerita berjudul The Story of the Fairy Tale, ditulis oleh Carl Ewald, seorang penulis dongeng, juga dari Denmark, yang muncul setelah Hans Christian Andersen, patut untuk kita simak dan renungkan. Sebab, meskipun cerita ini ditulisnya sekitar akhir abad ke 19 menuju abad ke 20, tetapi cerita ini sangat relevan, terutama untuk saat ini.

MENCARI KEBENARAN (scroll down, please)
Pada suatu waktu di masa kita sekarang ini, Kebenaran tiba-tiba saja lenyap dari muka bumi.

Ketika banyak orang menyadarinya, dunia menjadi gempar sehingga diutuslah lima orang paling bijaksana di seluruh dunia untuk menemukan Kebenaran. Kelima orang bijak ini diutus pergi ke seluruh penjuru bumi, dibekali dengan niat baik dan uang yang cukup membiayai seluruh perjalanan mereka untuk sepuluh tahun.

Setelah sepuluh tahun lamanya berkeliling dunia, kelima orang bijak itu kembali. Dari kejauhan mereka sudah melihat kedatangan masing-masing. Mereka saling melambaikan tangan sambil berseru kegirangan mengabarkan bahwa mereka masing-masing berhasil menemukan kebenaran.

Orang bijak pertama maju dan menyatakan bahwa ia sudah menemukan Kebenaran. Kebenaran adalah Ilmu Pengetahuan! Namun sebelum ia sempat menyelesaikan laporannya, orang bijak kedua menyikutnya dan mendorongnya sambil mengatakan hal itu adalah kebohongan besar, sebab kebenaran adalah Agama! Ini membuat orang bijak pertama menjadi sangat marah, sehingga mereka mulai bertengkar. Saat keributan itu mulai, orang bijak ketiga pun maju menengahi, ia berkata, Kebenaran bukan Ilmu Pengetahuan, bukan juga Agama. Kebenaran yang sesungguhnya adalah Cinta. Namun pernyataannya segera dibantah dengan ketus oleh orang bijak yang keempat. Orang bijak yang keempat ini dengan bangga menyatakan ia sudah mengantongi kebenaran. Dari dalam sakunya dikeluarkannya bongkahan emas, Kebenaran yang nyata adalah Emas, sedangkan hal-hal lain hanya permainan anak-anak yang tak masuk akal. Lalu berdirilah orang bijak yang kelima, namun dia tak dapat berdiri tegak, tubuhnya sempoyongan seperti sedang mabuk. Sambil tertawa-tawa orang bijak kelima ini berkata, semuanya salah. Kebenaran yang paling benar ada di dalam Anggur.

Demikianlah kelima orang bijak itu tak dapat menemukan kesepakatan tentang Kebenaran sehingga mereka mulai bertengkar, beradu argumentasi dengan sangat kerasnya. Lama kelamaan adu mulut itu menjadi adu jotos yang sangat brutal, tak lagi pantas untuk ditonton. Ilmu Pengetahuan kepalanya bocor. Cinta diserang habis-habisan sehingga compang-camping dan harus membersihkan diri  dahulu sebelum dapat tampil lagi di muka umum. Emas dilucuti dan ditemukan bahwa emas itu palsu. Botol Anggur dipecahkan hingga anggurnya tumpah ke tanah berlumpur. Tetapi yang paling menyedihkan adalah nasib Agama. Semua orang menyerang dan mengolok-oloknya sehingga ia nyaris kehilangan imannya.

Tak perlu waktu lama bagi orang banyak untuk mulai berpihak. Ada yang berpihak kepada yang ini, ada yang berpihak kepada yang itu. Lalu pertengkaran pun dilanjutkan kembali. Masing-masing pihak saling berteriak kepada pihak lain sehingga mereka tak lagi dapat saling melihat maupun mendengar karena begitu hebatnya kegalauan yang tercipta.

Tapi, di sebuah sudut dunia, duduklah sekumpulan orang yang sedang berduka. Mereka berduka karena mereka pikir Kebenaran sudah tamat, ia sudah tercabik-cabik dan tak mungkin lagi dapat menjadi utuh kembali.

Saat mereka sedang berputus-asa, datanglah seorang gadis kecil sambil berlari-lari. Gadis itu berkata ia sudah menemukan Kebenaran! Kalau saja mereka mau mengikutinya ke suatu tempat yang tak terlalu jauh letaknya dari tempat mereka duduk, mereka akan menemukan Kebenaran. Kebenaran sedang menunggu mereka di sehamparan padang rumput hijau.

Mendadak pertengkaran pun terhenti. Gadis kecil itu kelihatan sangat manis, sehingga mereka ingin mempercayainya. Satu persatu mereka berangkat mengikutinya. Semakin banyak orang pergi menuju ke padang rumput tempat Kebenaran sedang menunggu mereka.

Sesampainya mereka di sana, mereka melihat satu sosok yang tak pernah dapat mereka bayangkan sebelumnya. Saat melihatnya mereka tak dapat menebak apakah ia seorang laki-laki atau seorang perempuan, apakah dia seorang dewasa atau masih kanak-kanak. Dahinya begitu murni dan bersih, seakan-akan ia tak pernah mengenal dosa. Matanya dalam dan serius seakan-akan ia sudah membaca isi hati seluruh dunia. Ketika mulutnya terbuka dan menyunggingkan senyum, itu adalah senyuman paling gemilang, namun kemudian senyum itu tenggelam digantikan getaran kepedihan tiada tara. Tangannya selembut tangan ibu dan seperkasa tangan seorang raja. Kakinya mantap menjejak tanah, namun tidak sekalipun menghancurkan sekuntum bunga. Dan ia memiliki sepasang sayap yang besar dan lembut, seperti sayap-sayap para burung malam.

Ketika semua orang sudah berkerumun mengelilinginya, sosok itu menegakkan tubuhnya dan berkata dengan suara yang bagaikan gema lonceng.

"Akulah Kebenaran."

"Itu Dongeng!" Kata Ilmu Pengetahuan.

"Itu Dongeng!" Seru Agama, Cinta, Emas dan Anggur.

Lalu kelima orang bijak dan pengikutnya masing-masing,  pergi meninggalkan tempat itu dan melanjutkan pertengkaran hebat mereka hingga mengguncang seisi dunia.

Tetapi beberapa orang tua yang sudah makan asam-garam kehidupan, beberapa anak muda yang dipenuhi rasa ingin tahu, dan ribuan anak-anak dengan mata yang jernih dan terbuka lebar, orang-orang ini tetap tinggal di padang rumput itu bersama-sama dengan Dongeng, bahkan hingga hari ini.


Cerita yang indah kan? Dan patut untuk kita renungkan bersama. Terutama di saat-saat sekarang ini. Ketika kebenaran versi masing-masing cenderung untuk memecah-belah dan membuat kita bertengkar hebat karena mempertahankan kebenaran masing-masing, dongeng justru bersifat komunal. Dongeng menembus sekat-sekat, ia mengumpulkan kita dan mengajarkan kita untuk mendengarkan, untuk mengkaji tanpa memaksakan dogma sebab kita diberi kebebasan untuk melakukan interpretasi. Kita diberikan kebebasan untuk mengambil apa yang diberikannya dan menjadikannya bekal dengan bentuk yang paling sesuai untuk hidup kita masing-masing sesuai dengan pemahaman kita masing-masing. Ia mempersatukan, tanpa menyeragamkan. Itu sebabnya, dongeng-dongeng Hans Christian Andersen, dapat diterima di seluruh dunia, meskipun dongeng-dongeng itu khas Eropa dan kental pengaruh Kristennya, tetapi kebenaran-kebenaran universal yang terkandung di dalam cerita-cerita ini menembus batas-batas budaya, agama dan waktu.