14 December 2009

Berkaca & City of God (Cidade de Deus)

Setiap pagi atau malam sebelum tidur, saya berkaca di sebuah cermin besar meja rias saya. Saya bukan pesolek, dan sebenarnya meja rias itu tak pantas disebut meja rias, karena di atasnya lebih banyak tumpukan buku-buku, kertas dan dvd yang asal taruh daripada lipstick, rouge dan kawan-kawan mereka yang sebenarnya lebih berhak ada di sana. Tetapi, tentu saja, selalu ada pembersih wajah, kapas atau tissue dan tidak ketinggalan mainan Jason dan Joshua yang digeletakan seenaknya saja di sana-sini di dalam kamar saya, termasuk di atas meja rias yang berantakan sangat tersebut.

Dan semalam, ketika saya sedang berkaca sambil membersihkan wajah dengan krim pembersih wajah yang saya harapkan dapat juga sekaligus mengecilkan pori-pori saya, melicinkan kerutan-kerutan kecil yang mulai dengan nyaman menggoreskan tanda usia di wajah ini, serta tentu saja mengangkat kotoran dan lapisan kulit mati sehingga kulit wajah saya dapat tidur dalam kondisi bersih, maka saya menemukannya tergeletak di dalam keranjang rotan tempat alat-alat kecantikan sedianya di alokasikan, tapi.. tentu tidak, alat-alat kecantikan entah ada dimana-mana sedangkan yang bukan peralatan mempercantik diri justru ada di sana. Ya, dvd itu juga tergeletak di sana, dan seperti sebuah magnet ia menggiring saya untuk memutarnya kembali.

City of God atau Cidade de Deus, dirilis tahun 2002, dapat di lihat trailernya di Youtube yang saya embeded kan di bawah ini:



City of God menceritakan tentang kehidupan disebuah proyek perumahan tempat orang-orang yang berasal dari lingkungan-lingkungan kumuh dan para tunawisma ditempatkan atau diisolasi dari pusat kota Rio de Janairo. Proyek ini dinamakan Cidade de Deus atau City of God. Filem ini diadaptasi dari sebuah novel berjudul sama, yang ditulis oleh Paulo Lin yang merupakan juga sebuah kisah nyata kehidupan seorang fotografer Brazil bernama Wilson Rodrigues. Baik Paulo Lin maupun Wilson Rodrigues pernah tinggal di Cidade de Deus.

Di tempat ini, kematian akibat kekerasan dalam bentuk pertikaian antar geng adalah hal yang sudah biasa. Kekerasan adalah jalan hidup satu-satunya yang konsisten dari hari ke hari. Kehancuran adalah hal yang konsisten dari tahun ke tahun kehidupan anak-anak mudanya yang seringkali umurnya begitu singkat dikarenakan oleh obat bius, mabuk-mabukan dan perkelahian antar geng.

If you run you're dead...if you stay, you're dead again. Period.
If you run they'll catch you.If you stay they'll eat you.
Fight and you'll never survive..... Run and you'll never escape.
15 miles from paradise...one man will do anything to tell the world everything.
Based on a true story.
Drugs Guns Music Love
If you run it will get you. If you stay it will eat you.


Demikianlah tagline dari filem ini. Dan filem ini bukanlah sebuah filem yang "mudah." Filem ini adalah filem yang menghadapkan saya pada sebuah realitas hitamnya kehidupan yang pekat likat yang tidak pernah saya masuki dan terlalu jauh dari situasi kehidupan saya sehari-hari, sehingga membayangkannya pun saya tidak akan mungkin bisa, menjadikannya sebagai mimpi terburuk saya pun tidak akan pernah terjadi, sebab saya tidak memiliki cukup memori tentang apa itu kekerasan yang sesungguhnya dan bagaimana seseorang ditembak dan tergeletak mati di tengah jalan dengan otak terburai atau dada tercabik karena ditembus peluru oleh sebab-sebab yang seringkali tidak jelas.

Ya, filem ini memang sebuah filem yang sangat grafik memperlihatkan bentuk kekerasan yang mengerikan itu, sekaligus sebuah filem yang sangat menakjubkan kalau tidak bisa dikatakan indah. Dua buah sisi yang bertolak belakang dikawinkan dan, absurdnya, mereka berhasil bersanding dan membaur tanpa kehilangan satu sudut dan likunya.

Filem ini dibuka dengan segerombolan anak-anak laki-laki belasan tahun yang bersenjata api sedang mengejar seekor ayam yang sedianya akan dipotong namun berhasil melepaskan diri dari penjagalnya. Walaupun kenyataan bahwa mereka membawa senjata membuat saya bergidik, tetapi ada sesuatu yang menarik yaitu mereka nampak sangat menikmati apa yang sedang mereka lakukan, dan sangat jelas bahwa anak-anak tersebut sesungguhnya sedang bermain, namun cara mereka bermain jauh berbeda dengan permainan anak-anak normal di kompleks yang normal dalam kehidupan yang saya anggap normal seperti kehidupan yang saya jalani sehari-hari ini. Hal yang parahnya dengan otak saya adalah, saya jadi membayangkan bagaimana kalau Jason dan Joshua adalah salah satu dari anak-anak tersebut, karena cara mereka mengejar ayam dan keriangan anak-anak itu dalam perburuan mereka sangat mirip sekali dengan gaya si kakak dan si adik kalau sedang ngerjain korban mereka si Ba'ba', anjing kami yang malang itu. Bedanya, senjata kakak dan adik adalah keranjang untuk meletakkan baju-baju kotor yang terbuat dari nilon dan tujuan mereka adalah untuk mengurung Ba'ba' di dalam keranjang tersebut, sedangkan anak-anak tersebut tujuannya sudah pasti hendak menembak si ayam dengan senjata api sungguhan!

Berangkat dari awal pengejaran ayam itulah penonton bertemu dengan dua pemeran utama dalam filem ini, yaitu Rocket (Buscape) , yang menjadi narator dalam filem ini, dan Lil Ze, gangster paling berpengaruh di dalam filem ini. Gara-gara ikut-ikutan mengejar ayam, walaupun tidak bersama-sama dengan gerombolan gangster tersebut, Rocket menemukan dirinya berada tepat di tengah-tengah, antara barisan gangster bersenjata dan pasukan polisi bersenjata, lalu penonton dibawa dengan cepat flashback ke tahun 60-an di awal-awal masa proyek Cidade de Deus sedang dilaksanakan.

Bila di awal filem penonton melihat kompleks perumahan tersebut telah menjadi sebuah kompleks kumuh dan suram, maka kini penonton akan melihat proyek perumahan tersebut dalam situasi yang jauh berbeda, masih begitu banyak tanah-tanah yang terbuka dan rumah-rumah petak yang tersusun teratur. Anak-anak bermain bola di sebuah lapangan kosong, dan situasinya terasa normal seperti diperkampungan-perkampungan biasa, atau kompleks perumahan pinggiran yang tetangga-tetangga saling kenal satu dengan yang lainnya. Namun jangan terkecoh dengan suasana yang kelihatannya normal dan aman tersebut. Sebab benih-benih kekerasan sudah tumbuh sejak masa yang nampak normal itu.

Di tahun 60-an ini, sekelompok anak muda yang menamakan kelompok mereka sebagai The Tender Trio, yaitu, Shaggy, Goose dan Clipper yang selalu dikuntit oleh 2 orang anak kecil bernama Lil Dice dan Benny, mereka inilah bandit-bandit kecil yang sering melakukan penodongan-penodongan dengan senjata api untuk merampok para pemilik bisnis lokal. Namun, oleh kebanyakan penduduk di kompleks tersebut, mereka dipandang sebagai semacam Robin Hood, sebab mereka selalu membagikan sebagian hasil rampokan mereka dengan penduduk lokal di kompleks tersebut, akibatnya mereka pun mendapatkan perlindungan dari warga. Ada sebuah adegan kelompok ini merampok truk penjual gas lalu para warga sekitar juga turut ambil bagian dalam aksi tersebut dengan mengambili tabung-tabung gas yang berada di atas truk tersebut, sementara Lil Dice menendangi supir truk. Lalu baik warga maupun perampok sama-sama lari berhamburan ketika mobil polisi datang.

Nasib The Tender Trio segera berubah setelah mereka mengikuti rencana Li'l Dice untuk merampok sebuah motel, namun berakhir dengan pembunuhan massal yang dilakukan oleh Li'l Dice yang memang haus darah tersebut. Kejadian tersebut membuat mereka dicari-cari oleh polisi, dan masa kejayaan kelompok tersebut berakhir dengan bertobatnya Clipper dan menjadi pastor, Shaggy tertembak mati oleh polisi ketika sedang berusaha melarikan diri dengan kekasihnya, dan Goose ditembak mati oleh Li'l Dice ketika ia merampas uang milik Li'l Dice dan Benny agar dapat melarikan diri keluar dari daerah tersebut.

Sepuluh tahun kemudian, Li'l Dice yang telah mengubah namanya menjadi Li'l Ze bersama sahabatnya Benny, menjadi gangster yang paling disegani di daerah tersebut. Tidak puas dengan hanya menjadi gangster yang merampok, Li'l Ze merambah dunia penjualan narkotik, sebab menyadari bahwa dari sanalah mereka dapat memperoleh uang. Li'l Ze menyingkirkan semua lawan-lawannya kecuali Carrot, karena Carrot berteman dengan Benny. Benny adalah satu-satunya orang yang pendapatnya didengar oleh Li'l Ze dan satu-satunya orang yang dapat mencegah Li'l Ze melakukan hal-hal yang terlampau buruk. Walaupun Li'l Ze sangat bernafsu untuk membunuh Carrot dan mengambil alih daerah kekuasaan Carrot, namun Benny dapat mencegahnya melakukan hal tersebut. Maka, beberapa waktu lamanya, dibawah kekuasaan Li'l Ze dan Carrot, maka daerah kumuh tersebut mengalami masa-masa damai dan aman. Siapa yang merasa terganggu dapat melaporkan kasusnya kepada Li'l Ze dan akan dibereskannya, seperti ketika ia memberi pelajaran kepada kelompok anak-anak kecil yang diberi nama The Runtz, dengan menembak dan kemudian membunuh salah satu dari anak-anak tersebut sebagai peringatan karena anak-anak tersebut berulangkali melakukan penjarahan-penjarahan di toko2 lokal.

Namun nampaknya hal buruk dan terlampau buruk selalu saja harus terjadi. Seperti segala sesuatu yang salah akan menjadi semakin salah, maka demikianlah situasi di kompleks kumuh tersebut. Benny tertembak mati dalam sebuah pesta perpisahan karena ia hendak berhenti dari kehidupan sebagai gangster dan hidup tenang dengan kekasihnya, dan sejak saat itu Li'l Ze menjadi lepas kontrol, tidak ada lagi yang dapat mengendalikan atau mempengaruhinya kecuali keinginannya untuk menguasai daerah tersebut.

Perang antar geng pun terjadi, dimulai dengan Li'l Ze melakukan pemerkosaan terhadap kekasih Ned, lalu dilanjutkannya dengan membunuh paman dan saudara Ned. Ned seorang bekas tentara yang tadinya adalah pria baik-baik, tidak terlibat dalam kelompok manapun, akhirnya bergabung dengan kelompok Carrot untuk balas dendam kepada Li'l Ze.

Sepanjang kisah yang penuh dengan kekerasan ini, penonton dipandu oleh Rocket atau Buscape, yang menjadi narator, sekaligus kita melihat perjalanan kehidupan Rocket yang terlalu penakut untuk bergabung dengan gang manapun, serta kesukaannya memotret yang kemudian menghantarnya bekerja disebuah surat kabar sebagai pengantar koran, agar suatu saat kelak ia dapat berprofesi menjadi seorang fotografer.

Bila membandingkan bagaimana Rocket menjalani kehidupannya, yang tidak terlepas dari realitas kesehariannya karena ia berdomisili di daerah yang sama dengan Li'l Ze, Benny, dan setiap anak muda yang tinggal di City of God tersebut, maka dapat dikatakan bahwa kecintaan Rocket terhadap fotografi dan akal sehatnya yang membuat ia memelihara rasa takut itulah yang telah melepaskannya dari benang kusut yang membelenggu kehidupan sebagian besar anak muda di daerah tersebut.

Akhir dari kehidupan mereka yang memilih jalan kekerasan sudah hampir dapat dipastikan berakhir dalam kekerasan juga. Walaupun kematian bukanlah sesuatu yang dapat dihindari oleh manusia, namun bagaimana cara seseorang mengantarkan nyawanya merupakan sebuah pilihan.

Filem ini mebuat saya merenungkan apa yang pernah diceritakan oleh salah satu sahabat terbaik saya, yang pernah tinggal di daerah atau lebih tepatnya disebuah jalan kompleks perumahan kumuh di Jakarta ini. Di sana siklus kehidupan berjalan mirip dengan apa yang digambarkan dalam filem City of God, generasi berikut dan berikutnya lagi terseret dalam pusaran yang sama karena setiap hari dalam kehidupan mereka hanya contoh-contoh itulah yang mereka lihat, obat bius, mabuk-mabukan, perjudian, seks bebas yang membuat anak-anak tidak tahu dengan jelas siapa ayah mereka, kekerasan dalam rumah tangga, kematian anak-anak dan bayi karena kekurangan gizi atau diterlantarkan oleh orangtuanya, pengangguran, putus sekolah, kemiskinan, pelacuran.

Hm... ketika saya melihat kembali ke kaca, saya merasa betapa dangkalnya kekuatiran-kekuatiran saya terhadap kerut-merut di wajah ini yang bahkan sesungguhnya tidak jelas terlihat kecuali bila dipelototi benar-benar dan dicari-cari, sementara disebagian wilayah lain masalah mereka jelas-jelas besar dan nyata dan mereka tidak menyadarinya.

Bagi yg ingin menonton secara gratis bisa lihat di sini:

Part 1



Part 2



Part 3



Part 4



Part 5



Part 6



Part 7



Part 8



Part 9



Part 10



Part 11




13 December 2009

13: The Birth and The Death of The Day

Desember 2003, berpulang ke Rumah Bapa di Surga untuk selama-lamanya, papa tercinta, Jozef Siahaya.

Desember 2006, dilahirkan ke dunia, Ariel Jozelina Siahaya, anak pertama Ido dan Febri, cucu perempuan pertama bagi mama, keponakan perempuan pertama bagi saya.

Dan angka tiga belas menjadi angka yang menakjubkan bagi saya. Angka itu menjadi simbol siklus kehidupan. Ada yang pergi dan ada yang datang. Ada yang mati dan ada yang hidup. Ternyata menurut Numerology pun angka 13 bukanlah angka sial, seperti yang dipercayai oleh sebagian orang selama ini. Angka 13 apabila dijumlahkan akan menghasilkan angka 4, yang dalam Numerology berarti: creation atau penciptaan. Angka 13 juga berkaitan erat dengan kematian dan kelahiran kembali. Degenerasi dan regenerasi. Dan berkaitan dengan kematian papa dan kelahiran Ariel, maka angka 13 seakan-akan memang mengkonfirmasikan makna-makna yang disimbolkannya tersebut.

Hidup di dalam lingkungan keluarga Kristiani memudahkan saya untuk memandang kematian jauh dari sebuah bentuk "kesialan" melainkan sebagai dimulainya sebuah kehidupan yang lain diujung dari jembatan tersebut. Ya, kematian itu mirip sebuah pintu, atau sebuah lorong yang menghubungkan dunia fana dan keabadian. Kematian jasmaniah di dunia ini, adalah kelahiran kembali di dunia kekal. Kesedihan yang ditimbulkan oleh kematian adalah kesadaran bahwa orang yang melangkah memasuki lorong tersebut, tidak akan kembali lagi. Death is a one way ticket. Yang menghiburkan adalah pengetahuan atau mungkin lebih tepatnya disebut iman bahwa ia akan baik-baik saja di sana.

Kelahiran Ariel tepat di hari kepergian papa membuat saya merasa seperti berdiri di pelataran sebuah airport, mengantarkan satu kekasih bepergian jauh dan tidak akan kembali, lalu melangkah menuju ruang kedatangan untuk menjemput seorang kekasih yang baru tiba. Ya, kami berada di sana, di departure hall dan arrival hall, tepat di titik yang sama, yang satu pergi, yang satu datang. Sebuah pernyataan yang mengagumkan dari Sang Pemberi, bahwa ketika Ia memutuskan untuk mengambil, ia akan memberikan yang lain sebagai gantinya. Setidaknya bagi kami demikianlah adanya.

Selamat ulangtahun yang ke 3 tahun, Ariel...

Bentuk & Tujuan, Julie & Julia

i am crazy in love with..

movies, yeah, saya penggemar filem yang gila banget sebab saya bisa menonton filem yang saya sukai sampai berulang-ulang, ga ada habis-habisnya, tapi itu dulu... sekarang ini sudah terlalu jarang menonton filem sejak saya jatuh cinta habis-habisan dengan...

pet society, yeah, saya penggemar pet society yang gila banget, yang bisa bermain pet society dari pagi sampai malam tanpa makan dan minum atau berkomunikasi dengan orang lain, sampai-sampai saya lupa dengan cinta pertama saya yaitu...

buku-buku, yeah, saya penggemar buku yang gila banget sebab uang saya kebanyakan habis untuk membeli buku, buku apa saja yang menarik perhatian saya, entah itu buku tentang masakan, novel atau tentang paper craft, dekorasi ruangan, dan beragam buku-buku yang memenuhi lemari buku di kamar saya hingga bertumpuk-tumpuk tidak karuan, bahkan adik ipar saya pernah bertanya apakah buku2 itu sempat saya baca, haha, padahal sih buku-buku itu ada di sana justru karena sudah saya baca.

saya ingin kembali kepada cinta pertama saya. cinta pertama? yaps, cinta pertama. masih ingat kepada cinta pertama? beruntunglah mereka-mereka yang bahkan diberi anugerah menikahi cinta pertama dan tentu saja cinta sejatinya. sayangnya, walau cinta semacam itu tak pernah habis-habisnya dibicarakan dan ditulis orang, tetapi bukan yang itu yang saya maksudkan di sini. cinta pertama saya adalah membaca, karena sejak kecil ayah saya sudah membiasakan anak-anaknya untuk membaca. setiap pulang dari tugas ke Jakarta, papa selalu membawa pulang satu koper penuh buku-buku cerita dan ilmu pengetahuan anak-anak. dan saya melahapnya tanpa ampun! dalam satu minggu saja buku-buku tersebut sudah selesai saya baca. sayangnya, saya tidak dibiasakan untuk membuat resensi buku-buku yang sudah saya baca tersebut. namun, dengan semakin bertambahnya umur dan menurunnya kemampuan untuk melahap buku secara marathon, juga saya menemukan diri saya menyerap dan menghubung-hubungkan bagian-bagian yang saya baca, sehingga ada suatu pengolahan internal tentang apa yang sudah saya baca.

sebelum saya masuk sungguh-sungguh lebih dalam ke pembahasan tentang bagaimana saya mau kembali kepada cinta pertama saya maka, ada satu hal lagi yang merupakan juga kekasih hati saya, yaitu menulis. entah itu puisi, atau cerita-cerita pendek, atau apa saja yang dapat saya tulis dan deskripsikan dengan kata-kata. salah satu wujud dari kecintaan itu, atau lebih tepatnya gairah tersebut adalah menulis di blog.

..namun..

telah sekian lama saya merasa tidak menemukan bentuk untuk menulis di blog, dan saya adalah tipe orang yang akan membahas dan memikirkan itu semua sampai saya menemukan jawabannya, sama seperti saya menulis tentang menulis yang membuat gemas itu ^^. walaupun ada yang mengatakan bahwa pencarian jauh lebih penting daripada menemukan, namun saya merasa pada suatu titik tertentu harus ada penemuan, sebab bila tidak, sia-sialah pencarian.

....demikianlah, sampai pada suatu hari dua minggu yang lalu, saya berhasil juga menonton Julie & Julia..

masukan yang saya peroleh dari filem Julie & Julia, membuat saya menemukan diri saya merenungkan soal bentuk dan tujuan.



filem Julie & Julia yang dirilis pada tahun ini, tahun 2009, adalah sebuah kisah nyata yang diangkat dari sebuah buku berjudul, Julie and Julia: 365 Days, 524 Recipes, 1 Tiny Apartment Kitchen (2005) yang kemudian diubah judulnya menjadi: Julie and Julia: My Year of Cooking Dangerously seperti yang tertera pada gambar di atas tersebut. buku ini diangkat dari tulisan di blog seorang blogger, Julie Powel, yang membuat sebuah blog untuk menceritakan rekaman perjalanan masak-memasaknya selama 365 hari memasak 536 resep dari sebuah buku resep masakan yang ditulis oleh Julia Child, seorang ikon masyarakat Amerika.

Julie Powel membuat blog tersebut karena adanya rasa tidak puas dengan pekerjaannya dan hidupnya, sementara ketika memasak ia merasa memperoleh kepuasan batin tersendiri. selain itu, ia merasa dirinya tidak pernah benar-benar fokus dan berhasil mencapai sesuatu atau mengerjakan sesuatu hingga tuntas sehingga ia menantang dirinya sendiri untuk mengerjakan proyek yang dinamakannya TheJulie/Julia Project tersebut.

seperti biasa, keingintahuan saya membawa saya mencari blog Julie Powel, saya ingin tahu bagaimana bentuk blog Julie Powel, apakah memang benar-benar ada atau sudah tidak ada lagi. ternyata blog itu masih ada dan entri terakhir yang ditulis oleh Julie Powel di blog The Julie/Julia Project mencatat tentang kematian Julia Child diusia 91 tahun, tanggal penulisan entri tersebut adalah 13 Agustus 2004, aha, nomor favorite saya, 13! itulah entri terakhirnya di blog tersebut. sedangkan karir menulis Julie Powel masih berjalan, buku keduanya berjudul: Cleaving: a Story of Marriage, Meat, and Obsession, akan dirilis pada bulan Desember tahun ini, saya tidak tahu apakah ketika saya menulis saat ini, buku tersebut sudah dirilis atau belum.

Filem Julie & Julia sendiri adalah sebuah filem yang inspiratif bagi saya, karena itu tadi, filem tersebut membuat saya berpikir tentang bentuk dan tujuan. bagi saya, adalah sangat mengagumkan bahwa Julie Powel, out of boredom dan perasaan tidak berbahagia, justru menciptakan sebuah karya yang menarik. sedangkan Julia Child adalah sosok yang luarbiasa dan dimainkan dengan sangat luarbiasa juga oleh Meryll Streep. Julia Child belajar memasak diusia 37 tahun, ketika ia mendampingi suaminya yang bekerja di Kedubes AS saat ditugaskan di Perancis, ia belajar memasak karena ia sangat suka makan dan ia ingin memasakan makanan-makanan lezat untuk suaminya.

kedua wanita ini, Julie & Julia, berangkat dari motivasi dan situasi yang berbeda. Julie hidup dalam kebosanan, sementara Julia begitu bersemangat dalam hidupnya. Julie memasak dan membuat blog agar merasa lebih hidup dan bergairah, Julia belajar memasak untuk mengisi waktu karena ia suka menyibukan diri. Julie dan suaminya tinggal di sebuah apartemen kecil di atas sebuah piza parlor, sedangkan Julia dan suaminya memiliki kehidupan yang lebih dari berkecukupan karena karir suami Julia di Deplu AS. namun keduanya menemukan kebahagiaan dalam memasak, dan keduanya pada akhirnya memperoleh bentuk dan tujuan mereka dalam sesuatu yang mereka sukai.

itulah yang membuat saya menemukan "aha" moment ketika menonton kembali dan merenungkan perjalanan mereka. saya menemukan bahwa ketika menuliskan blog ini pun saya tidak harus menjadi seorang drifter tanpa bentuk maupun tujuan yang jelas. yang saya perlukan adalah menggabungkan apa yang saya sukai dan dekat di hati saya untuk saya tuangkan di blog ini, sehingga blog ini memiliki bentuk yang jelas, setidaknya bagi saya sendiri, dan tujuan yang semakin jelas dari hari ke hari, juga bagi saya sendiri.

dan sekali lagi, dari filem ini saya belajar bahwa perasaan bosan, tidak bahagia, sedih, kecewa, dan seribu satu macam emosi negatif yang kadang-kadang singgah, mereka itu bukan musuh yang harus diberantas, atau ditakuti, mereka adalah alarm, sebuah sinyal atau tanda, bahwa ada sesuatu yang harus dibenahi, atau dikurangi, atau ditinggalkan, atau diubah, agar menjadi lebih baik, lebih ringan, lebih bermanfaat dan seterusnya dan seterusnya dan seterusnya... demikianlan hidup berjalan ^^

oh iya, filem ini juga mengingatkan saya pada sebuah kalimat yang berbunyi, "all you have to do is to find something you really love to do to work on and the money will follow."

12 December 2009

Ketika Valen Bercerita & Tanah Tabu


Tanggal 12 November 2009, sebuah sms masuk ke ponsel SE saya berbunyi: "Sy baru tiba di dekai, tlg cari dan baca buku Tanah Tabu karangan Anindita Stayib, Gramedia, berbicara banyak ttg Papua..." yang tidak langsung saya baca sebab saya tidak tahu dimana ponsel saya berada setelah dimainkan oleh, entah, Jason atau Joshua. Beberapa hari kemudian barulah saya menemukan ponsel plus sms tersebut, dan saya langsung mencari informasi tentang buku termaksud ke sebuah situs bernama Goodreads, lalu terpesona dengan resensi-resensi tentang buku ini. Dua minggu kemudian barulah saya memperoleh buku Tanah Tabu karangan Anindita S. Thayf dan mulai membacanya.

Membuka halaman demi halaman Tanah Tabu, mengikuti jejak-jejak Leksi, Mace dan Mabel, ditemani oleh Pum si anjing dan Kwe si babi, memutar kembali pikiran saya kepada segala sesuatu yang dikisahkan oleh Valen, gadis manis berusia 16 tahun, yang selama dua hari mengobrol di kamar saya menceritakan begitu banyak hal hasil pengamatannya sepanjang umurnya yang masih sangat belia. Matanya yang indah dan cerdas, merekam begitu banyak peristiwa yang menjadi kenyataan sehari-hari selama 10 tahun kehidupannya di Jayapura bersama ibunya, seorang perempuan kuat dan cerdas, aktivis sebuah partai politik, dan ayahnya, seorang laki-laki, yang masih mewarisi garis keturunan ondoafe atau kepala suku besar di Sentani.

Valen bercerita tentang teman-temannya yang suka mabuk dan merokok. Tentang sebuah ironi bahwa ketika pada suatu ketika ia yang merupakan seorang aktivis penyuluhan AIDS mewakili sekolahnya di kota Jayapura, dan juga seorang anti-rokok sejati, dengan gagah berani melarang teman-teman laki-lakinya yang sering berkumpul di depan rumahnya sambil merokok agar tidak merokok, sementara warung milik ibunya sendiri mendapatkan penghasilan utama dari hasil menjual rokok kepada anak-anak tersebut.

Valen bercerita tentang bagaimana tidak seorang anak muda pun mau mempergunakan bahasa suku mereka karena mereka malu bila dicap sebagai orang udik dan tidak modern karena berbicara bahasa daerah, dengan demikian maka bahasa Indonesia memang dikenal, dipakai dan dimengerti dengan baik, bahkan sampai ke daerah paling terpencil sekalipun di Papua. Ia mengakui bahwa ada rasa rendah diri yang begitu besar apabila seseorang tidak dapat berbicara dalam bahasa Indonesia dengan baik.

Valen bercerita tentang kebiasaan mabuk-mabukan yang membuat sebagian besar, Valen menekankan bahwa: hampir semua laki-laki yang dikenalnya, menjadi begitu mudah untuk melakukan kekerasan dalam rumah tangga, baik terhadap isteri maupun anak-anak mereka.

Valen bercerita tentang poligami, yang merupakan hal yang wajar, terutama bagi mereka yang memiliki garis keturunan ondoafe, dan ayahnya tidak merupakan perkecualian. Ia bercerita bagaimana ibunya mengalami pergumulan yang luarbiasa karena situasi tersebut baru dialami oleh mereka segera setelah mereka sekeluarga pindah dari Semarang ke Jayapura dan ayahnya menemukan dirinya berada dalam strata yang berbeda dari sebelumnya.

Valen bercerita tentang bagaimana isteri-isteri bersaing memperebutkan perhatian suami, bahkan melakukan tindakan-tindakan yang mempermalukan diri sendiri dan mencelakai pihak yang lain.

Valen bercerita tentang kerusuhan yang pernah menyebabkan salah satu sepupunya, seorang anak gadis berusia 12 tahun yang sedang menjemur baju di halaman samping rumahnya, tiba-tiba tertembus peluru nyasar dari polisi.

Valen bercerita tentang betapa seriusnya penyebaran AIDS di Papua, dan masih sangat sedikit anak muda yang mau perduli tentang hal itu. Ia juga menuturkan betapa bebasnya pergaulan para remaja Papua, dan tentang lokalisasi PSK yang hampir semuanya di datangkan dari Jawa itu, serta betapa tergila-gilanya laki-laki Papua terhadap perempuan-perempuan Jawa.

"Mama bilang," kata Valen, "Ko jangan pacar-pacaran dulu, sekolah baik-baik, jadi perempuan yang mandiri, supaya tidak bisa diperlakukan dengan sewenang-wenang."

Membaca Tanah Tabu, seperti mendengar suara Valen sedang menuturkan sebagian dari kisahnya. Ya, sebagian saja dari kisahnya, sebab ia juga bercerita dengan mata yang berbinar tentang cita-citanya, tentang bagaimana ia menemukan humor dalam kolom-kolom koran pagi yang dilahapnya, bagaimana ia begitu ngefans terhadap seorang penyanyi pujaan masyarakat Papua, yang merupakan keturunan Maluku, tentang keasyikannya bermain dengan teman-temannya, tentang kegiatannya sehari-hari sebagaimana layaknya remaja dimanapun juga mereka berada. Ia bercerita tentang begitu banyak saat-saat manis, diantara kenyataan-kenyataan pahit kesehariannya.

Valen, melengkapi gambaran utuh tentang adanya harapan akan perubahan.
"Di ujung sabar ada perlawanan. Di batas nafsu ada kehancuran. Dan air mata hanyalah untuk yang lemah."

11 December 2009

Introspeksi & Retrospeksi

Sudah saatnya membuat rencana.

Hari ini adalah hari menyusun rencana untuk "kehidupan" online alias menilik kembali mana yang worth to keep dan mana yang harus dibuang. Dan soal buang membuang dan dipertahankan itu juga termasuk beberapa blog yang saya miliki dan sudah terbengkalai beberapa waktu ini. Padahal dahulu sewaktu menciptakan blog-blog yang saya bayangkan sebagai laci-laci yang menyimpan moment-moment tertentu tersebut, saya pernah berjanji dalam hati atau kepada diri sendiri untuk mengisinya setiap hari, menyisihkan waktu 1 jam entah itu di pagi hari, siang, sore atau larut malam untuk menulis di salah satu blog2 tersebut.

Harus saya akui bahwa Facebook ternyata telah berhasil menyita waktu online saya dengan segala fasilitas dan keriuhan di sana, yang menciptakan semacam euphoria jalinan pertemanan, keasyikan mengintip kehidupan orang lain secara instan dan ikut bersuara di dalamnya. Namun akhirnya saya merasa begitu bosan dengan hiruk pikuk yang terjadi di sana. Bosan dengan semua kegiatan yang memang ramai dan meriah, tetapi diakhir hari membuat saya merasa sangat gamang karena saya jadi bertanya kepada diri sendiri, apa yang telah saya lakukan seharian tadi? Saya merasa kehilangan substansi.

Ketika membaca jurnal sendiri, saya jadi terhenyak oleh sebuah kenyataan yang memang terjadi pada segala sesuatu dalam kehidupan ini, yaitu penyimpangan arah. Penyimpangan arah dapat saja terjadi tanpa disadari ataupun secara sadar karena kondisi tertentu kehidupan yang tidak pernah 100% berada dalam kendali manusia. Penyimpangan arah perjalanan dunia maya saya disebabkan melulu oleh rasa ingin tahu dan keterlibatan sepenuhnya dalam sesuatu yang baru. Saya menyadari bahwa saya termasuk tipe yang all out ketika melakukan sesuatu, payahnya, saya juga tipe yang kurang dapat mengantisipasi akan bagaimana jadinya.

Saya juga belajar tentang sesuatu yang cukup mengagumkan bahwa sesuatu yang buruk yang terjadi ditengah-tengah hal yang sedang berjalan, bisa menjadi sebuah berkat yang diperlukan untuk akhirnya membawa seseorang kembali pada jalurnya. Seperti yang terjadi pada akun gaul saya di Facebook yang ternyata berhasil disusupi oleh seseorang, entah siapa, dan akhirnya tanpa pikir panjang saya deactivate saja, setelah mengubah password dan emailnya, untuk waktu yang tidak ditentukan, dan setelah deaktivasi tersebut, saya lebih merasa lega daripada kehilangan. Ha! Gawat kan? Mungkin memang itu sudah seharusnya terjadi? Mungkin si penyusup tersebut justru membantu saya melakukan apa yang tidak akan pernah terpikirkan oleh saya kalau tidak ada dorongan darinya. Apapun itu, terimakasih banyak sebab sudah membuka cakrawala di kepala saya yang selama ini tertutup awan.

Saat menulis di sini, saya mendapatkan komentar-komentar dari Yulie di blog Women's Talk ttg reaksi teman2 di sana waktu akun saya tiba-tiba menghilang tanpa kabar berita. Mohon maaf, sebab saya memang sedang malas membuat status, malah tidak terpikirkan sama sekali untuk memberitahu siapapun, secara spontan yang terpikir hanya ganti email dan password, lalu di deactivate saja untuk sementara waktu. Mengapa harus di deactivate? Saya hanya merasa tindakan tersebut yang paling aman dan nyaman.

Suka lupa bahwa tanpa penjelasan membuat orang akan mencari-cari penjelasan mereka sendiri. Asumsi-asumsi muncul karena tiadanya penjelasan. Saya harus banyak berkaca soal yang satu ini.

Baiklah, waktu satu jam saya sudah hampir habis untuk kali ini. Setidaknya untuk satu hari ini, saya telah berhasil memenuhi janji tersebut, dan mulai berjalan dalam jalur yang sudah saya susun dahulu. Let's take it one step at a time, shall we?