Sunday, July 09, 2017

Afi, Fatamorgana Yang Kita Ciptakan Sendiri

Saya mau cerita tentang para tukang nyontek yang fenomenal, teman suka nyontek tapi tetap aja gagal dan hubungan ini semua dengan fenomena Afi yang sedang serujadi bahan gunjingan. As usual, kalo postingannya panjang, saya bakalan ngelantur ke sana dan ke sini. Namanya juga potongan-potongan pokok pikiran, jadi boleh-boleh aja alurnya lompat-lompat kan? *Suka-suka elu lah G!*

Nyontek. Siapa yang nggak pernah nyontek saat sd, smp, sma dan kuliah? Saya berani banget taruhan bahwa cuma sebagian yang bakal angkat tangan dan bangga bilang 'gw enggak!', saya termasuk salah satunya. Cieh G, cieh... Hahaha... sumpah di atas kepala nenek lo, saya memang BUKAN tukang nyontek, ga pernah sibuk bikin krepekan, ga pernah mau nyalin hasil kerjaan orang. Heibat bukan? BUKAN! Sebab selain nggak mau nyontek, saya juga ga rajin belajar, dan ga perhatian sama guru kalo di kelas, yayaya...ketebak lah kalo nilai ujian jebloook adalah garansinya. Semasa smp, saya bahkan seharusnya nggak naik kelas dari kelas satu ke kelas dua, tapi hasil diskusi ortu dengan pater, akhirnya saya dijebloskan ke kelas 'sore', huhu...kelas buangan itu, satu yayasan tapi bukan sekolah yang sama, pokoknya itu memalukan sangat buat kapten volley yang satu ini, dan akibatnya nggak lagi main volley sama sekali. Kegagalan yang memalukan itu, sampai membuat saya ngarang cerita bahwa saya ini bukan saya, saya adalah kembaran saya (yang belakangan, saya 'bunuh' juga, ceritanya dia kena kanker otak dan tewas), lucu dan konyolnyaaa, teman-teman sekelas percaya pulak, hahaha... maaf ya temans *geli-geli gimana gitu*. Iya, segitu gampangnya sebetulnya jadi penipu itu, dan segitu gampangnya orang jadi ragu-ragu lalu percaya kalau kitanya sok yakin aja. Saya mah bukan tukang nyontek, bukaaan, tapi menipu diri sendiri, sering.

Kalau ditanya, apakah para penyontek semuanya jadi juara atau angka-angka ulangannya moncer semua? Ternyata enggak juga. Tapi, ada penyontek yang memang jagoan dan mereka biasanya sindikat dari beberapa orang saling bagi-bagi jawaban. Nahini, penyontek yang fenomenal yang mau saya ceritakan itu. Sebut saja nama mereka Femi, Fera dan Fifi, geng 3F yang selalu masuk peringkat 10 besar karena punya metode nyontek saling bahu-membahu dan menguasai teknik ngrepek yang luar biasa. Di geng ini, belajar untuk ulangan adalah tabu. Nyiapin contekan untuk ulangan, itu norma yang berlaku. Tiga-tiganya anak gaul yang selalu pakek make-up tipis-tipis, sebab di sma kan masih nggak boleh pakai rias wajah saat di dalam lingkungan sekolah. Tiga-tiganya, rok abu-abunya selalu jauh dari atas lutut, kalau duduk ribet sendiri. Rambut mereka rambut khas jaman 80-an, besar-besar (rambut saya juga sama) dan rajin diblow. Mereka ini mahluk super. Social skill-nya ok dan angka rapor hasil nyontek yang mereka lakukan dan akui dengan bangga, juga oke. Masa remaja yang sempurna sih sebetulnya. Femi, si ketua geng, malah lebih hebat pencapaiannya, dia menjadi juara tiga. Konyolnya, kalau disuruh maju ke depan untuk mengerjakan soal, dia pasti blank. Itu saja kelemahannya.

Sebaliknya, ada juga teman cowok, sebut saja namanya Dogel, yang kerjaannya madol dan rajin nyontek juga, tapi karena kerjaannya cabut melulu di jam pelajaran menyebabkan dia nggak bisa mempersiapkan bahan-bahan contekan yang tepat. Akibatnya, angka-angkanya jeblok dan mendapat hadiah akbar, tidak naik kelas alias jadi veteran.

Ya, nyontek juga nggak gampang. Sama kayak nyopet, kalo nggak ahli bisa ketahuan dan habis digebuk masa. Mau nyopet duit seratus ribu doang, nyawa malah melayang atau minimal bonyok total, serem juga lah ya. Yang lebih mudah, menguntungkan, tapi memang kudu perlu harus disertai dengan kerja keras adalah belajar. Kalau belajar, udah pasti bisa, itu beberapa kali saya buktikan sendiri. Nggak ada pelajaran yang terlalu sulit, apalagi di jaman internetan ini ya, semua cara dan jawaban bisa kita cari. Belajar atau mengetahui sesuatu jadi jauh lebih mudah dan menyenangkan. Yang diperlukan adalah fokus, sehingga tahu apa yang ingin dan perlu untuk diketahui dan diinginkan. Ya, fokus dan konsistensi, adalah dua hal penting. Sayang aja saya nggak konsisten sih... kemampuan saya untuk fokus justru membaik setelah makin dewasa. Konsistensi memerlukan latihan dan disiplin. 

Dan apa hubungan kilas-balik membongkar sampah-sampah masa lalu ini dengan fenomena Afi yang terjadi sekarang? Hubungannya adalah, kita ini suka lupa bahwa kita semua pernah remaja, pernah jadi ABG yang ababil. Kita lupa bahwa monster-monster ABG yang sekarang ini, adalah bentuk-bentuk kita dulu, sebelum berubah menjadi manusia normal atau monster berbentuk manusia normal (coba tengok opa-opa di gedung miring). Kita lupa memperhitungkan sisi ketidak-matangan Afi karena sudah terlanjur sibuk membentuknya menjadi Malalafi. Beberapa orang bahkan secara prematur terlanjur menyatakan suara Afi adalah suara kenabian. Kita berharap seorang nabi Malala menjelma, termanifestasi, dari dalam diri Afi. Sayangnya enggak, Afi ya Afi. Dia bahkan ga cukup kesatria mengakui dia cuma copas status, dia melakukan berbagai cara untuk ngeles. Untung dia nggak mengarang punya saudara kembar jahat yang selama ini pura-pura jadi dia di internet, hahaha... mungkin kalo saya jadi Afi bakal gitu ngelesnya. Apakah saya gila? Enggak lah, saya ngarang bebas saat ingin melindungi diri. Afi ya Afi, Afi yang cuma remaja biasa, dia sudah 19 tahun, jadi sudah dewasa muda, tapi tetap saja nggak heran kalau dia belum matang. Gimana mau matang kalau orang dewasa setua Fadli Zon yang anggota Dewan itu saja masih ngaku dia kerja hanya main-main sebab presidennya bukan Prabowo. Afi yang 19 tahun, dengan Zon yang 40something berada di zona yang sama. Ironis memang, tapi kenyataannya ya begitu. Bandingkan juga dengan gaya ngeles Rizieq, yang bersikeras dia dikriminalkan, apa nggak mirip-mirip? Afi ya Afi, Afi yang cuma remaja biasa, pengguna medsos. Dan sama kayak saya dan kamu, kita dan mereka, kami dan kalian, sama-sama pengkonsumsi status-status terusan yang dicopas dari messenger saat percaya bahwa tulisan-tulisan itu mengartikulasikan dengan jelas apa yang kita pikirkan, rasakan dan yakini.

Cuma beda nasib aja dengan kebanyakan kita, Afi mengalami kemujuran seperti Femi yang jadi juara 3 karena menyontek secara konsisten, Afi menjadi tenar karena status dan kemudaannya itu sesuai dan mewakili segolongan orang untuk menampar kelompok lain yang berseberangan.

Bagi sebagian kita, ditengah minimnya idola muda yang cerdas dan jernih, Afi muncul seperti sebotol cola dingin di hari yang panas saat kita kepingin banget minum yang seger-seger dan punya gaya. Kita berharap banyak saat melihat botol dingin itu, kita berharap airnya bisa memuaskan dahaga kita. Sayangnya, Afi bukan cola dingin yang kita harapkan. Afi adalah kita, Afi adalah bagian dari kita yang kehausan. Halusinasi kita mengubahnya menjadi sebotol cola dingin. Dia adalah fatamorgana yang kita ciptakan bersama, dan Afi menikmatinya, padahal dia sedang terperosok ke dalam pasir isap. Saya sedang menunggu ada Indiana Jones yang tiba-tiba muncul dan menariknya keluar, sementara kita sibuk bertengkar. 

Thursday, June 29, 2017

Selamat Ulang Tahun Ahok!

Hari ini, tanggal 29 Juni, Ahok, gubernur Jakarta yang kalah dalam pilkada beberapa bulan lalu, kemudian didakwa bersalah untuk kasus penodaan agama, berulangtahun yang ke-51 tahun. Ternyata, bedanya cuma 2 tahun dengan saya,yang berulangtahun ke-49 beberapa hari yang lalu. Tapi kalau bicara soal pengalaman hidup, dalam usianya yang sudah setengah abad lebih setahun itu, Ahok pastinya jauh lebih punya banyak cerita dibandingkan rata-rata orang yang seangkatan dengan kami. Beruntunglah dia. Hidupnya benar-benar sudah dipergunakan habis-habisan untuk melakukan apa yang ingin dan bisa dilakukannya untuk negara yang dia cinttai ini.

Melihat sepak-terjang Ahok, saya jadi berpikir, itu cara seseorang yang bekerja dengan sepenuh hati, nggak separo-separo. Dia nggak suam-suam kuku, dia berani maju menerjang segala rintangan dan menerima resikonya meskipun resikonya ternyata berat juga. Dipenjara dua tahun, yang ironisnya, justru menunjukkan apa yang menjadi keprihatinannya ternyata benar: musuh-musuh politiknya memelintir dan mempergunakan ayat-ayat kitab suci demi kepentingan politik mereka. Kebenaran itu berbahaya. Terutama saat banyak orang tidak siap untuk menerimanya, dan massa yang tak bisa terima itu dengan mudah dipergunakan oleh mereka yang punya kepentingan. Mungkin Ahok seharusnya lebih hati-hati, lebih main aman?

Entahlah... Menurut saya sendiri, cinta memang harus diuji, dan sebelum kamu kehilangan dirimu demi cinta itu, sesungguhnya kamu tidak pernah benar-benar mengalami dan mendalaminya. Ahok boleh bilang demi cintanya kepada Indonesia dia rela ini rela itu, tetapi sebelum dia kehilangan segala-galanya untuk Indonesia, dia sendiri belum tahu sebesar apa cintanya. Dapatkah dia mempertahankan cintanya? Sekuat apa api cinta di dalam dadanya untuk negeri ini? Setiap perjuangan membutuhkan pengorbanan. Pengorbanan itu yang menjadikan pahlawan. Pengorbanan membutuhkan kerelaan dan keteguhan hati. Bagi saya, melihat dari seberang sini, dari tempat yang aman, dari sudut pandang awam yang sebenarnya tidak tahu betul apa yang sedang terjadi di sana, Ahok sedang menjalani perjalanan seorang pahlawan. Saya merasa beruntung hidup sejaman dengan Ahok. Saya telah menjadi salah satu saksi sejarah lahirnya seorang legenda. Semoga kita semua tidak pernah berhenti menyuarakan dukungan untuk Ahok, semoga kita semua terus mengingat mengapa dan bagaimana pengorbanan itu terjadi sehingga kita setia menjaga api perjuangan itu tetap menyala hingga saatnya nanti.

Selamat ulang tahun, Ahok!

Monday, June 26, 2017

Hanya Ada 2 Macam Tipe Manusia, Pilihan Ada Di Tangan Kita

Percaya nggak percaya, hanya ada dua macam tipe manusia,yaitu:

1. Tipe Yang Tepat. Tipe ini biasanya selalu berusaha keras untuk tidak mengecewakan. Mereka akan melakukan apa yang harus dan bisa mereka lakukan untuk membuat suasana jadi menyenangkan, membahagiakan atau memperbaiki apa yang rusak dan membongkar, merubuhkan, membuang apa yang sudah seharusnya dibuang. Pokoknya mereka pasti melakukan hal yang tepat dan memilih jalan yang juga tepat untuk membantu kita mewujudkan atau mencapai sesuatu.

Ini bukan bicara soal cinta-cintaan saja lho... Walaupun harus disadari bahwa sebetulnya dalam soal itu pun gampang untuk menyadari tipe yang tepat itu yang seperti apa, asal kita mau memperhatikan apa yang dilakukannya dan secara sadar mengevaluasi dia membuat kita merasa bagaimana. Kalau orang itu membuat mood kita jadi lebih baik, membuat suasana  di sekitar kita rasanya lebih ringan dan menyenangkan, selalu berusaha untuk membalas perhatian dengan perhatian, selalu menginginkan apa yang terbaik untuk kita tapi mau menghormati pilihan kita, kayaknya orang semacam itu yang enak untuk masuk dalam tim kita atau kita yang bergabung ke dalam timnya. Kenapa? Karena dia jelas-jelas menginginkan kita dalam hidupnya, bukan untuk dibully, diperalat, dijadikan simpanan yang bisa dipakai kalau lagi mau, dilepeh-lepeh kalau sedang nggak mood, ish...itu sih bajingan ya.. Iya, itu yang bakalan terasa di saat dekat-dekat atau dilengketin sama manusia tipe kedua.

2. Tipe yang tidak tepat. Tipe ini, akan selalu berusaha untuk mengecewakan. Percayalah. Kita pun saat jadi tipe yang ini, punya kecenderungan untuk, nggak mau peduli, nggak mau memperhatikan, kalau bisa menghindar lebih baik menghindar, nggak terlalu perduli apakah orang lain akan sakit hati, sedih atau bahkan bahagia sekalipun, itu bukan urusan kita. Kenapa? Ya itu, karena kita memang nggak tepat untuk orang atau kelompok tersebut.

Lihat saja contoh di negara ini. Kita sama-sama tau kok, penyakit paling mengerikan negara ini adalah: korupsi. Para koruptor itu semacam tikus-tikus pengerat sendi-sendi bangunan negara dan pasti bangunan akan runtuh kalau mereka dibiarkan. Orang yang tepat, sudah pasti akan membasmi para hama yang berbahaya, ya kan? Tapi,orang yang nggak tepat? Silakan saja perhatikan mereka-mereka yang begitu bersemangat membela hama-hama berbahaya itu dan secara sengaja dan sewenang-wenang memang berusaha sekeras mungkin mengecewakan kita.

Bingung kan? Masak sih mereka nggak tau dampaknya bagi negaa ini? Tau lah pastinya. Jadi kenapa mereka ngotot tetap berjibaku mengecewakan rakyat? Sebab mereka adalah orang-orang yang salah, yang tidak tepat berada pada saat ini, dan untuk kebaikan yang sedang ingin kita raih bersama. Mereka orang-orang yang seharusnya, kita singkirkan secepat mungkin, sebab mereka tidak akan berubah. Justru, dengan kevokalan mereka, kita sebetulnya jauh lebih mudah untuk menandai orang-orang yang tidak tepat ini dan menyingkirkan mereka dari kehidupan kita. Ya, seandainya saja semudah itu.

Tapi dalam urusan yang keputusannya sepenuhnya bergantung kepada kita sendiri, sebaiknya memang dipermudah. Jangan menyusahkan diri sendiri. Sayangi diri sendiri, berbaik-hatilah pada diri sendiri, pilih untuk berada bersama-sama orang atau sekelompok orang yang tepat dan jauhi atau tinggalkan orang atau kelompok yang tidak tepat.

Sunday, June 25, 2017

Instagram: @MyLazySketch

Thank God for Instagram.



Galeri di atas ini mempergunakan aplikasi dari sini: Instush

Sejak jaman sekolah dulu, catatan saya selalu penuh dengan gambar-gambar, kebanyakan gambar muka orang atau coretan-coretan huruf dan kata-kata yang dihias-hias nggak jelas. Saya yakin, banyak banget yang modelnya seperti saya. Kalau bosen mendengarkan guru, maka ngedoodling aja supaya nggak ketiduran. Bener atau bener? Pasti bener. Dari sekian banyak yang gaya mengatasi kebosanannya sama, saya juga yakin ga terlalu banyak yang kemudian menjadikan menggambar sebagai hobi, apalagi yang kemudian mengejar karir sebagai artis gambar atau ilustator atau disainer dan sebagainya yang ada urusannya dengan menggambar. Terus terang aja, saya menyesali kenapa saya nggak seriusin aja urusan gambar menggambar ini. Seandainya waktu bisa diputar ulang, satu-satunya hal yang akan saya ubah dari hidup saya adalah: menentukan mau kuliah di jurusan apa. Saya inget banget, papa saya pernah bilang, "Usi, mau nggak kuliah Fine Art di New Zealand?" dan saya nggak menanggapi dengan serius tawaran papa waktu itu. Ih...kalau saja saya punya visi yang bagus, sudah sejak awal lulus SMA saya akan ambil jurusan seni, khususnya untuk jadi ilustrator mode. Itu saja, satu hal itu saja yang harus saya ubah dan saya tahu itu bakal mengubah seluruh perjalanan hidup saya, haha...

Karena saya nggak mungkin mengubah masa lalu, maka saya bersyukur bisa menikmati instagram di masa kini, yang membuat saya menyadari bahwa, hei...saya bisa menggambar dan saya menikmati menggambar! Saya juga berbahagia karena saya menguntit begitu banyak artis gambar, baik yg pro maupun yang amatiran, dan stream instagram saya jadi penuh karya-karya keren mereka. Dengan melihat hasil mereka, saya juga belajar dan mencontoh teknik-tekniknya. Ini sebuah institut seni yang gratis dan luar biasa, rasanya.

Maka, ya.. Thank God, for instagram.

Tuesday, November 15, 2016

Firefly Lane & Fly Away, Catatan Tentang Sequel Yang Tak Habis Saya Baca, Karena?

Firefly Lane (***spoiler alert***)

Kathleen Scarlet Mularkey, Kate atau Katie, dan Tallulah Rose Hart, disingkat Tully, menjalin persahabatan sejak kelas 8 (kelas dua SMP) hingga mereka dewasa. Persahabatan ini diceritakan secara apik di novel Firefly Lane. Tully yang egois, mau menang sendiri, selalu fokus mengejar cita-citanya dan mengalami sukses besar dalam karirnya, menjalani persahabatan dengan Kate yang selalu bertindak sebagai pendampingnya, Kate yang lebih lembut, lebih bijaksana dan menginginkan kehidupan tenang. Ketika Kate bertemu dengan John Ryan, yang kelak akan menjadi suaminya, John terpesona dengan Tully dan Kate harus menunggu beberapa tahun sebelum akhirnya mengakui perasaannya kepada John.

Kate dan Tully sama-sama memiliki keraguan dalam soal cinta. Tully, karena selalu diterlantarkan oleh ibu kandungnya, merasa susah untuk percaya seseorang mencintainya dan tidak akan pernah secara sengaja meninggalkannya. Sementara Kate, yang dibesarkan dalam keluarga yang hangat dan penuh kasih sayang, selalu percaya bahwa cinta sejati itu ada, tetapi rasa tidak percaya diri membuatnya selalu meragukan cinta John kepadanya.

Persahabatan Kate dan Tully dapat bertahan karena Kate selalu mengalah dan mentolerir segala tingkah-polah Tully. Hubungan persahabatan antara Kate dan Tully, lebih mirip hubungan antara seorang kakak yang memanjakan adiknya yang selalu bertingkah, meskipun bagi orang lain sudah melewati batas, tetapi kakak yang baik selalu memaafkan dan menerima kembali.

Titik paling rendah dalam persahabatan mereka adalah saat Tully dan Marah, anak sulung Kate, bersekongkol untuk menampilkan Kate dan Marah dalam acara tv milik Tully (yang kini sudah seterkenal Oprah) dengan topik the over protective mothers and the teenage daughters who hate them. Apa yang dilakukan Tully kali ini sudah melampaui batas. Akibatnya, persahabatan itu putus. Selama dua tahun, keduanya tidak saling berbicara. Tully tidak mau meminta maaf, Kate tidak mau lebih dahulu memaafkan seperti yang biasanya dia lakukan. 

Lalu, Kate terkena inflamatory breast cancer, dan dia menghubungi Tully karena dia ingin ditemani sahabat terdekatnya dalam menghadapi saat-saat akhir. Demikianlah, Tully dan Kate dipersatukan kembali. Kate tentu saja meninggal dan menitipkan keluarganya kepada Tully.

Apa yang selanjutnya terjadi, ada di novel lanjutannya.


Fly Away

Saya tidak bisa membaca novel ini sampai habis.

Novel ini menyebalkan sangat.

Semua tokoh-tokohnya muram dan terus-terusan berputar-putar memikirkan Kate yang sudah mati, seakan-akan mereka nggak punya kerjaan lain. Saya justru jadi kesal kepada Kate yang sudah meninggal itu, dan sekarang jadi semacam hantu di novel kedua ini, hantu yang tak rela meninggalkan cerita yang seharusnya sudah bukan lagi tentang dia. Kepingin teriak, go away, let others move on.

Saya juga tidak merasa bersimpati kepada Johnny, duda yang hanya bisa marah dan bersedih karena kehilangan Kate-nya yang tercinta. Oh, puuullleeeaaazeeeeh.

Tidak juga kepada Tully, yang menjadi pemabuk dan minta dikasihani terus-menerus, dan memimpikan Kate terus-menerus. Just die and be done with it Tully.

Apalagi kepada Marah, anak sulung Kate, yang egois, pemarah, manja, selalu minta perhatian, dan songong. Saya jadi berharap mereka semua mati saja bersama-sama dengan Kate yang mereka rindukan itu.

So, I stop reading, sebab saya bahkan tidak peduli bagaimana akhir cerita untuk masing-masing tokoh. Bagi saya, mereka sudah mati bersama kematian Kate.