Saturday, October 01, 2016

Katakan Cukup Sudah, Aku Bukan Sisyphus

Cukup sudah. Gambar ini sudah saya posting
di instagram
Ada masanya, kita--kita? lebih tepatnya, saya--seperti Sisyphus, melakukan hal yang sia-sia secara berulang-ulang, nggak pernah selesai-selesai. Eh, sebentar... Tau kan hal sia-sia seperti apa yang terpaksa harus dikerjakan Sisyphus sepanjang keabadian? Tau juga kah cerita kenapa dia sampai harus melakukan hal itu? Mungkin ada yang belum tahu, dan karena mood saya sedang kepingin nulis postingan panjaaang, mari saya ceritakan kembali mitos Yunani yang satu ini. Ceritanya menarik.

Kisah Sisyphus

Sisyphus adalah seorang raja dari Ephyra atau yang sekarang disebut sebagai Corinth (Korintus). Sebagai penguasa dia terkenal cerdas dan culas. Untuk melanggengkan kekuasaannya, dia melakukan segala cara dan membunuh banyak orang. Tetapi dosa terbesar yang dilakukannya adalah sesumbar bahwa dia lebih cerdas dari Zeus. Sebagai mahadewa, Zeus tentu tidak terima. Sisyphus lalu dihukum dengan dikirim ke dunia bawah, Tartarus, yang dikuasai oleh Kematian, Thanatos. Namun apa yang terjadi? Sisyphus berhasil menjebak dan merantai Thanatos lalu kabur dari Tartarus. Akibatnya, tak ada manusia yang meninggal untuk jangka waktu yang sangat lama, karena Kematian diikat oleh Sisyphus. Hal ini menjengkelkan bagi Ares, dewa perang, karena apa asyiknya dalam sebuah peperangan saat tak ada yang mati terbunuh? Maka dewa-dewa pun bersepakat untuk bersama-sama menangkap manusia yang merepotkan dan mengacaukan keseimbangan yang mereka ciptakan. Mereka lalu mengancam akan membuat hidup Sisyphus begitu menderita sehingga ia akan memohon untuk mati. Sisyphus pun tak berani mengambil resiko tersebut, ia membebaskan Thanatos dan menerima hukumannya.

Apa hukumannya?

Hukumannya adalah untuk selama-lamanya, Sisyphus harus melakukan satu kegiatan, mendorong sebongkah batu besar ke atas gunung dan batu itu akan meluncur turun kembali sehingga Sisyphus harus mendorongnya lagi ke atas. Demikian berulang-ulang, sepanjang keabadian.

Saya bukan Sisyphus. Tetapi selama bertahun-tahun, sejak 2006 hingga 2016 ini, saya melakukan hal yang mirip seperti yang dilakukan oleh Sisyphus. Menjalani hal yang sia-sia untuk dilakukan, bukan karena kena kutukan atau hukuman dewa-dewa, tetapi karena belum memiliki kesadaran bahwa saya sedang menjalankan "hukuman" yang seharusnya tidak perlu saya jalani.

Beruntungnya, saya, berbeda dengan Sisyphus, tidak harus mendorong batu itu ke atas dan boleh membiarkannya menggelinding sesukanya. Saya, tidak seperti Sisyphus, bebas merdeka untuk keluar dari tartarus dan bisa pergi kemana saya kehendaki. Mantera untuk membebaskan diri dari kesia-siaan hanya satu: cukup sudah.

Ya, kesabaran harus ada batasnya. Ada kecukupannya. Itu semua untuk kebaikan manusia bahwa ada batasan-batasan. Batasan kesakitan adalah kematian. Batasan kemarahan adalah tindakan. Batasan kesabaran adalah perubahan. Setidaknya, itu bagi saya. Saya bersyukur, cuma perlu waktu sepuluh tahun untuk menyadari kesisyphusan yang sudah saya lakukan perlu dihentikan sebab saya nggak berbahagia melakukannya. Begitu saya putuskan untuk cukup sudah, dan meninggalkan semuanya begitu saja, langkah saya ternyata enteng-enteng saja. Jalan di depan sana aman-aman saja. Sejauh ini, hari-hari saya tetap normal-normal saja, haha... emang mau jadi aneh kayak apaan sih?

Semua itu memberikan satu lagi pelajaran berharga yang saya peroleh dari pengalaman ini yaitu, be brave, jangan maju mundur, melangkah ke depan, biarkan apa yang tak bisa diselesaikan dan diubah untuk direlakan saja. Bukan bagian saya untuk memperbaiki apa yang memang bukan tugas saya. Saya bahkan tidak perlu membuang-buang tenaga dan waktu untuk itu. Saya seperti baut yang berbeda ukuran dimasukkan secara paksa pada sebuah mur. Pantas saja makin nggak beres, saya yang semakin lama semakin nggak nyaman dan bosan, dan akhirnya muak. Muak itu penting ternyata, haha... Muak itu, puncak kesadaran. Lalu semua menjadi lebih jernih saat melepaskan sumber masalah.

C'est la vie. Begitulah hidup...

No comments:

Post a Comment

Dear Readers, di blog ini, semua komentar yang masuk dimoderasi dulu. Jadi, jangan kaget kalau komentarmu 'menghilang', nggak langsung nongol, sebab musti saya baca dulu, renungkan dulu (cieeeh), baru deh boleh nongol di blog. Terima kasih sudah menyempatkan untuk berkomentar. :)