Saturday, March 12, 2016

Mari Kita Coba Lagi

Hidup ini penuh dengan kesempatan, demikian kata orang-orang optimis. Dan, gue termasuk salah satu dari sekian banyak orang yang menyebalkan untuk didengerin sama mereka yang suka teriak-teriak 'kiamat sudah dekat, kalau elo nggak bersama gue, lo gue kirim sekarang juga ke neraka'--kayak udah iye aja gitu, dia yang nentuin kapling-kapling di surga atau neraka. Yes, I believe in second, third--even thousands of, chances. Selama elo nggak mabok dan kepayahan sendiri ngulang lagi ngulang lagi, usaha lagi, lagi, lagi dan lagi, mah, siapa juga yang bisa menghentikan lo? Contoh paling afdol itu Leonardo deCaprio, yang setelah bertahun-tahun dibully habis-habisan karena enggak juga menang-menang Oscar, akhirnyaaa, jreng! di tahun Monyet yang terberkati ini dia bisa bilang sama para pencemoohnya, "Woiy, nyet! Gue dapat oscar juga akhirnya!" Lo kira monyet-monyet pencemooh itu kalau disuruh mengalami nasib yang sama dengan bang Leo bakal kuat menghadapi bullyan bertahun-tahun? Mungkin enggak, mungkin mereka dengan lebay sudah berdoa minta diubah jadi kelinci atau tikus daripada jadi monyet terus-terusan. Memang cuma monyet yang tabah yang bakal jadi raja monyet dan berhak memanjat menara paling tinggi lalu menepuk dada saat berubah menjadi King Kong.


Eniweis, tujuan saya menulis entri ini, bukan untuk ngelantur seperti kumpulan-kumpulan kalimat di atas, iyes, ini adalah bagian dimana saya melakukan disclaimer tak bertanggungjawab atas tulisan ngelantur yang bakal bikin kepala kalian para pembaca menjadi berkunang-kunang, mata mampet dan hidung pusing. Tapi nekad baca terus sampai habis, war biasah ya, itu perjuangan hempas datang lagi hempas datang lagi berlaku banget buat orang-orang ndablek macam kita-kita, wahahaha... See.. auooo..ngelantur banget kemana-mana. 

Oke, ini sirius. Kenapa coba saya kasih judul entri ini sebagai: Mari kita coba lagi? Iya, kenapa kok saya malah balik nanya sama kalian wahai pemirsaaah?!? 

*Benerin kacamata plus-plus* 

Jadi begini--sekarang beneran serius, selama sekian tahun ngeblog, saya udah ganti tujuan entah berapa ratus ribu kali, muahahaa, tante-tante labil. Dari mulai blog diary, blog puisi, blog resensi buku, blog teknik menulis, trus akhirnya enggak ngeblog-ngeblog saking kepingin monetize blog tapi, oh Tuhaaan, betapa pemalasnya akuuuh *remas-remas konde*, akhirnya saya menyerah.... Setelah melakukan soul searching selama beberapa tahun (wuakakakaaaa) akhirnya saya nyadar bahwa sebagai peternakan blog yang berpola pikir random, saya harus terima bahwa saya ini masuk kategori nyinyiers, yang memang takdirnya harus punya blog pribadi yang ga bisa dipake untuk ngisi atm, tapi bisa dipake untuk mensyiarkan isi kepala saya, buat ngoceh-ngoceh tentang apa saja yang seorang tante-tante 40-an tahun menuju 50-an tahun bisa ocehkan dan kelak akan jadi jejak-jejak saya di dunia maya. Ihiks... sumpeh gue malah jadi jiper abis nulis soal jejak-jejak itu, too serious gitu kesannya. Tapi, asudahlah, ada pepatah yang bilang elo bakalan lebih nyesel karena nggak melakukan sesuatu hal daripada melakukannya.

So, apa hubungannya dengan mari mulai lagiiih??? Iya, ini udah mau masuk ke poin yang itu. Hubungannya adalah, blog ini dimulai lagi dari titik nol, hehehe, dari sejak postingan ini, blog ini saya anggap lahir baru, menunaikan takdir awalnya, menjadi semacam diary online. Tempat saya menuliskan segala apa yang terlintas di kepala, atau segala gosip-gosip kekinian versi saya. Biar saya jadi bagian dari mereka-mereka yang menulis ya untuk menulis di blog, memuaskan hasrat, masturbasi opini, apalah-apalah kata dunia, tak mengapa, daripada mampet dan cuma jadi ingus?

So here we go again, the journey begins...

No comments:

Post a Comment

Dear Readers, di blog ini, semua komentar yang masuk dimoderasi dulu. Jadi, jangan kaget kalau komentarmu 'menghilang', nggak langsung nongol, sebab musti saya baca dulu, renungkan dulu (cieeeh), baru deh boleh nongol di blog. Terima kasih sudah menyempatkan untuk berkomentar. :)