Monday, March 14, 2016

Banjir, Banjir, Siapa Yang (Masih) Punya?

Hellooow, ada yang bisa jawab nggak pertanyaan di judul entri ini? Enggaaaak! Nggak apa-apa sebab ini juga entrinya mau nyindir abis, nyinyirin ngebahas silaturahmi banjir di propinsi tetangga yang kemarin salah satu walkot terbaiknya dipaksa-paksa suruh datengin banjir lagi ke Jakarta mau dicalonkan untuk DKI1 rebutan sama si koko kita yang sekarang masih sibuk ngumpulin KTP, ngomong-ngomong, udah pada ngumpulin blom? Buruan ikut nyetor ke Teman Ahok, kita sedang bikin sejarah baru nih, gubernur yang terpilih karena maju secara independen, people power, gaes!

Posko Teman Ahok BUKAN CUMA DI MALL, tapi jg ada di 150 kelurahan di Jakarta. Silakan cek www.temanahok.com/posko. Kita mau Ahok jadi Gubernur lagi, ini saatnya kita bergerak dan buktikan bahwa kekuatan warga DKI memang ada!



Lanjooot!

Soal banjir, dulu, dulu itu beberapa tahun yang lalu, Jakarta selalu langganan banjir. Se-la-lu! Bahkan sampai ada meme-meme keparat banget yang beredar soal samudera Jakarta, wakakakaka... Kalau mau berenang-renang gratis di jalan protokol juga bisa. Rumah-rumah di kompleks perumahan mewah sekalipun kena jatah kebanjiran sampai hampir cuma tersisa atapnya saja. Perahu karet? Kami serumahan nyaris beli satu buat siap-siap siapa tau Jakarta tenggelam. Atau yah...bisa disewakan saat bencana tiba (yooloooh teganya dikau, nte!), aji mumpung, memanfaatkan bencana secara maksimal. Sayangnya Untungnya niat busuk itu nggak pernah terlaksana, selain karena perahu karet ternyata mahal, juga karena sebelum uang kekumpul, banjir udah ga berani datang lagi. Tau kenapa? Sebab gubernur Jakartanya udah kasar sekarang, enggak santun, nggak asyik lah pokoknya buat dikunjungi. Banjir memutuskan tali silaturahminya. Ihiks....

Tapi etapi, kemana dong mereka harus pergi kalau begini caranya? Ya nyari yang gubernurnya welas asih, santun dan barokah. Demikian akhirnya mereka memutuskan untuk memelihara silaturahmi dengan propinsi tetangga. Dan kita orang-orang Jakarta, terutama dua ponakan saya yang sekolahnya dulu langganan banjir dan langganan kena libur karena banjir, hanya mampu menatap dengan mata nanar saat melihat berita banjir menyerbu propinsi tetangga, tak ada lagi jatah liburan banjir untuk mereka beberapa tahun belakangan ini. Malang sekali nasibmu, naaak, naaak! 
















Mengapa banjir masih juga betah di propinsi tetangga, sebab bupatinya bilang rakyat sudah terbiasa dibanjirin sama air, kalo dibanjirin sama emas, baru luaaarrr biasa. Gitu ya pak? Jadi ya, terima, terima ajalah. Ini kan sudah suratan takdir dapat bupati yang begitu. Nanti juga itu air surut sendiri kok, nggak usah diapa-apain, diemin ajaaa! Itu contoh betapa santunnya pejabat-pejabat di sana menyikapi banjir. Mereka ramah dan baik hatinya, makanya barokah banjirnya juga tetap besar-besaran. Tradisi yang nggak boleh diubah, nggak sopan soalnya kalau diubah. 

Apalagi banjirnya ini adil, mau orang kecil atau orang besar, sama-sama kebagian dapat jatah air sungai citarum. Sama deh kayak orang Jakarta jaman-jaman gubernurnya santun-santun dulu itu, mau kokai, mau nggak kokai, mau punya ktp dki atau pendatang bawaan abis mudik, semua kebagian air kiriman dari Bogor. Jadi ya, cuma di saat-saat seperti itu kita bisa merasakan indomie selerakuuu secara massal.

Yah, semoga aja si banjir tahu diri, kalau bertamu jangan lama-lama, jangan keterlaluan nyusahin tuan rumah.

2 comments:

  1. Peran pemerintah yang tegas dan benar-benar bekerja untuk membangun tata kota, sungai dan drainase adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah banjir

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jakarta sedang bebenah dan nampaknya sudah berhasil. Semoga daerha-daerah lain juga menyontoh ibukota.

      Delete

Dear Readers, di blog ini, semua komentar yang masuk dimoderasi dulu. Jadi, jangan kaget kalau komentarmu 'menghilang', nggak langsung nongol, sebab musti saya baca dulu, renungkan dulu (cieeeh), baru deh boleh nongol di blog. Terima kasih sudah menyempatkan untuk berkomentar. :)