bentuk-bentuk huruf yang berbeda

@ Mencoba mempergunakan bentuk huruf yang berbeda.--Font: Courier New

Pagi ini, ketika (lagi-lagi) duduk di depan laptop untuk mencoba menuangkan apapun yang ada di dalam benak saya, maka secara iseng-iseng saya mencari font (jenis huruf) yang berbeda. Secara umum, MWWP biasanya sudah disetting untuk mempergunakan font Times New Roman. Padahal saya sudah agak bosan dengan bentuk font, yang menurut mata saya yang menderita rabun jauh akut ini, terlampau ramping. Jadi, saya memutuskan untuk mempergunakan font baru, dan pilihan saya jatuh pada Courier New yang lebih bulat-bulat dan lebih lebar, enak di mata, walaupun makan tempat, untuk tulisan yg ini.

@ Mencoba membaca hingga tuntas untuk kedua kalinya: Creative Play dan In His Image.--Font: Palatino Linotype

Ada korelasi yang unik dari kedua buku yang sedang saya baca saat ini. Begini ceritanya.

Buku Creative Play, saya beli sebelum Jason lahir, ketika Ista dan Nona, mama dan almarhum papa, dan almarhumah Oma Pangpang serta kami sebagai extended family sedang mengalami euphoria mempersiapkan kedatang sang calon anggota baru tersebut ke tengah-tengah keluarga ini.

Sebagai satu-satunya tante dari pihak ayah sang calon bayi, saya memutuskan untuk menjadikan diri saya tante yang baik, yang tugasnya kelak adalah bersenang-senang dengan si bayi, dan membiarkan papa dan mamanya lah yang mengurusi hal-hal yang susah-susah, hehe, iya dong... bukankah secara umum memang seperti itu aturannya? Maka, saya memutuskan untuk membeli buku ini, sebab saya punya sebuah rencana yang sangat ambisius, yaitu kalau bermain, maka permainan kami haruslah permainan yang terarah yang akan membantu menciptakan seorang jenius bagi dunia, weleh weleh weleh... saya kok merasa seperti Mr. Plankton di Spongebob ya?

Buku ini, ternyata membuat saya terpesona, karena dari buku ini saya belajar begitu banyak hal secara tidak langsung dan kemudian secara langsung ketika bermain dengan Jason dan kini juga dengan Joshua. Walaupun saya tidak berhasil mengadopsi secara keseluruhan isi buku ini ke dalam kenyataan, karena pada kenyataannya, bermain dengan anak-anak itu sangat melelahkan secara fisik maupun mental, plus merupakan ujian kebijaksanaan dan kesabaran yang baru saya sadari masih sangat perlu untuk diasah, namun buku ini membantu saya melihat dan menyadari apa arti bermain bagi anak-anak dan mengapa mereka bermain seperti mereka bermain, serta mengapa bermain merupakan sebuah hal yang penting bagi anak-anak.

Melalui buku ini saya berhasil memperoleh pengertian bahwa bermain adalah sebuah cara yang luarbiasa yang dipergunakan oleh seorang anak untuk belajar secara alamiah.

Lalu, bagaimana dengan buku yang satunya lagi?

In His Image, adalah buku yang luarbiasa, buku ini memenangkan The Gold Medallion Book Award, ditulis oleh Dr. Paul Brand, seorang dokter ahli bedah tangan dan spesialis penyakit kusta yang ternama, dan Phillip Yancey, seorang editor umum untuk Majalah Christianity Today dan salah satu dari sekian penulis favorit saya karena pandangan-pandangannya yang luarbiasa tentang iman, harapan, kasih dan perbuatan, serta keberaniannya membedah isu-isu aktual yang sulit dan menantang bagi gereja baik sebagai institusi maupun sebagai komunitas yang merupakan tubuh Kristus, serta mempertanyakan dan membiarkan sebuah pertanyaan tetap menjadi tanda-tanya besar ketika jawabannya tidak dapat ditemukan melalui nalar manusia maupun hukum-hukum yang kaku, dan satu-satunya jalan keluar hanyalah: kasih karunia.

In His Image adalah lanjutan dari sebuah buku lain berjudul Fearfully and Wonderfully Made. Kedua buku yang luarbiasa ini mempergunakan tubuh manusia untuk menggambarkan hubungan yang luarbiasa antara TUHAN dan ciptaanNya.

Di sini saya akan mengutip apa yang ditulis oleh Phillip Yancey pada kata-kata pembukaannnya di buku ini, dalam terjemahan bebas ala G:

...mempelajari tubuh manusia merupakan usaha yang pantas untuk dilakukan karena menghasilkan bonus yang tidak terduga. Yaitu memberikan pencerahan atas metafora yang digunakan lebih dari 30x dalam kitab Perjanjian Baru, yaitu: Tubuh Kristus. Orang-orang Kristen, diumpamakan sebagai anggota-anggota individual dalam sebuah tubuh yang Universal dengan Kristus Yesus sebagai Kepala-nya... terdapat kemiripan yang begitu nyata antara tubuh manusia dengan Tubuh Rohani, kemiripan ini datang dari Penulis yang sama.

Seorang seniman besar dapat mempergunakan media apa saja untuk mengekspresikan dirinya, namun gaya dan tema, isi dan pendekatannya akan memancarkan kesamaan dalam setiap karyanya. Jadi, kita tak perlu terkejut bila Seniman Maha Agung pun telah meninggalkan tanda tanganNya dalam bentuk yang berbeda... arahkanlah teleskop ke galaksi-galaksi, bintang-bintang, dan planet-planet di alam semesta, dan kemudian ketika kita mempergunakan mikroskop yang kuat untuk memandang molekul-molekul, atom-atom dan elektron-elektron yang amat kecil, maka tak dapat disangsikan lagi bahwa kita akan melihat kemiripan yang luarbiasa dalam struktur dan polanya. Pencipta yang merancang kedua realitas tersebut adalah Pencipta yang sama.

Melalui buku ini saya belajar menghargai tubuh dan segala sesuatu yang terdapat di dalamnya. Tuhan sudah memperlengkapi setiap tubuh yang diciptakannya dengan sangat sempurna, setiap komponen-komponen yang terdapat di dalamnya harus bekerjasama sesuai dengan fungsinya masing-masing agar seorang manusia dapat hidup dan bergerak dengan sempurna. Sel-sel di dalam tubuh manusia, dapat dan mampu untuk berdiri sendiri, namun ketika beberapa dari mereka melakukan hal itu, maka tubuh mengalami kehancuran atai disfungsional tertentu, tidak lagi sempurna.

Demikian juga individu-individu dalam Tubuh Kristus, setiap individu memiliki perannya masing-masing, sekecil atau sebesar apapun kelihatannya peran tersebut tergantung pada waktu dan tempat. Seperti penggambaran tentang darah putih yang nampak bergerak begitu lamban dan tanpa tujuan bila dibandingkan dengan darah merah yang selalu tergesa-gesa dan sibuk bekerja, namun begitu sesuatu yang asing dan kemungkinan besar mencelakai suatu bagian tertentu dari tubuh menerobos memasuki tubuh maka darah putih bergerak dengan cepat ke lokasi tertentu untuk menghancurkannya dan menyelamatkan tubuh walaupun dengan begitu mereka harus mengorbankan dirinya sendiri.

Setiap orang menempati posisi tertentu dan memiliki fungsi tertentu. Namun bagaimana cara untuk mengetahuinya? Dengan belajar secara langsung alias direct learning. Itulah yang dilakukan oleh seorang anak ketika mereka bermain, mereka mengeksplorasi, mengamati, dan belajar, bahkan seringkali melalui proses trial and error, karena ada hal-hal tertentu yang hanya bisa dipahami melalui kedua proses tersebut.

Seberapa sering saya kehilangan momentum untuk berfungsi secara benar karena saya terlalu kuatir melangkah dan melakukan kesalahan, dan seberapa sering saya gagal berfungsi sesuai dengan kebutuhan karena saya gagal belajar dari kesalahan-kesalahan yang sudah pernah saya lakukan.

@ Menguruskan badan.--Font: Georgia

Eci bilang, saya sudah segemuk Daphne. Daphne adalah anak dari sepupu saya, usianya sama dengan Jason, berat badannya 2x lipat berat badan Jason. Diluar semua itu, Daphne sangat cantik. Tapi dia juga sangat "besar" dan kata-kata big and beautiful sangat tepat menggambarkan Daphne, namun saya sangat sangsi hal itu menggambarkan saya. Karena itu maka nampak-nampaknya diet time dan exercise time are in order, pronto!


@ Mak Comblang atau lebih tepatnya Nak Comblang itu bernama: Jason!--Font: Arial Narrow

Beberapa waktu belakangan ini Jason mulai sibuk mempertanyakan status saya yang single ini, lajang jang jang jang!

Pada suatu hari pertanyaannya adalah: Tante Usi, kenapa tante Usi ga menikah sih? Apakah memang Tuhan pikir ini yang terbaik buat tante Usi?

Hmm... Jawaban saya adalah, "Tante Usi ga tau pikiran Tuhan apa, kak, tapi yang tante Usi tau sih.. keadaan ini ga terlalu jelek juga, kan jadi bisa main sama kakak dan adek?"

Betul juga, kata Jason, jadi kan bisa urusin kita juga ya? Lalu dia ngeloyor pergi.

Kalau saya pikir hal itu sudah selesai.. oho-ho-ho, saya salah sekali, duakali dan seratus kali lipat, sebab beberapa waktu kemudian, sepulang sekolah dia mendatangi saya dan mengusik saya untuk mengijinkannnya bermain di laptop saya yang saya jawab: TIDAK! Lalu dia duduk disamping saya dan berkata, Tante Usi, tante Usi ini kakaknya papa Ista kan?

"Iya, Je, kan Jason juga udah tau."

Dia mengangguk. "Iya," maksud Jason adalah, "seharusnya tante Usi kan duluan menikah daripada papa Ista." Lalu dia menepuk-nepuk bahu saya seperti seorang kakek kepada cucunya, dan berkata dengan serius sambil memandang dalam-dalam ke mata saya, "Bagaimana bisa menikah dan ketemu dengan suaminya tante Usi, kalau tante Usi ga mau keluar rumah?"

Ha! Jawab saya sambil meninju pundaknya, "Maksud kakak, tante Usi keluar rumah supaya kakak bisa mengambil alih laptop tante Usi, kan?"

Hahahah, dia terbahak, "Salah satunya juga begitu memang yang Jason maksudkan! Kok tante Usi bisa tau?"

Jawaban klasik saya, "Kan tante Usi ini tantenya Jason, yang urus Jason sejak masih kecil, ya pasti taulah pikiran keponakannya."

Kalau saya pikir sudah berhenti di situ usaha Jason untuk "memaksa" saya menikah dengan seseorang atau menemukan seseorang, maka saya salah sekali, dua kali dan seratus kali lipat.

Beberapa waktu yang lalu kami kedatangan tamu, sepupunya Nona yang sedang menjalani tes PNS. Nah, pagi-pagi sebelum berangkat ke sekolah tiba-tiba Jason mengisyaratkan sesuatu kepada saya, dia ingin membisikkan hal yang penting.

"Tante Usi, sama Oom... itu aja."

Ha?

"Iya, maksud Jason, tante Usi jadi suaminya Oom... itu aja."
"Isteri kali maksud kakak."
"Iya, jadi isterinya Oom... itu aja, dia juga kan belum menikah."

Hahahahahahahahaaaaaaaa! Saya ngakak beneran.

"Tante Usi udah ketuaan lah buat Oom... itu, kakak."
"Memangnya tante Usi umur berapa?"
"Empat puluh satu tahun, kakak."
"Emangnya Oom... umur berapa?"
"Yah pokoknya jauh lebih muda lah."
"Memangnya apa salahnya?"
"Ya salah aja kalo buat tante Usi, kemudaanlah dia."

Lalu dia menggandeng tangan saya untuk turun tangan, dan kebetulan melihat Oom yang termaksud sedang bercanda dengan Joshua, dan dengan spontan dia bertanya, "Oom... umurnya berapa?"

"Dua puluh tujuh tahun." Jawab si Oom tanpa curiga, trus merasa aneh juga dan bertanya, "Kenapa memangnya Jason?"

Jason malah melihat saya dan bertanya, "Eh, kalo tante Usi tadi berapa umurnya?"

"Empat puluh satu tahun, Je.." Jawab saya.
Dan Oma berteriak dari dapur, "Memangnya kenapa sih mau tau umurnya orang-orang besar?"
Saya menyahut, "Jason mau menjodohkan tante Usi ini dengan Oom..."

Jason cepat-cepat lari sambil cekikikan, dan Oom yang malang jadi serba salah. Saya tertawa geli, mama terbahak-bahak.

Nampaknya, saya harus mulai sangat waspada karena keponakan saya yang satu itu naga-naganya akan menjadi Nak Comblang bagi saya setiap ia melihat dan mengira ada kesempatan.


@Pertanyaan: Bentuk huruf mana yang paling enak dibaca?--Font: Trebuchet Ms

11 komentar:

yans'dalamjeda' said...

Menjadi lebih unik meski isi yang menjadi paling utama.
Kreatif, seolah menjelajahi ruang-ruang yang berbeda dari setiap paragrafnya.

ikkyu_san a.k.a imelda said...

Kalau saya dari dulu suka Trebuchet hehehe

bermain dengan anak-anak memang butuh kesabaran yang besar. karena itu saya tidak bisa jadi guru TK.

EM

eka wijayanti said...

Jason...
*senyum geleng-geleng*

Kabasaran Soultan said...

Wakakakakakakakakakakaka ....
Beruntung dikau G .
Punya ponakan yang pintar, lucu dan menggemaskan.
Meraka saja sudah cukup bagimu.
mau ketawa-ketiwi lagi akh..
wakakakakakakakakakaka

Prihandoko said...

ternyata mendampingi anak tidak semudah yg kubayangkan, apalagi disaat fisik dan mental kita sedang lemah, bukan positif guidance yang kita berikan, tp malah sebaliknya....

addiehf | kerja keras adalah energi kita said...

yang enak dibaca menurut saya sesuai templet ini adalah jenis hurup Georgia, sebetulnya Trebuchet Ms juga bagus cuma kurang besar kali ya jadi keliatannya agak susah ngebacanya (terlalu berdempetan) di resolusi 1024x768 :D

Joddie said...

waaah.. thanks info buku-bukunya,,.. hmm nyari ada ndak ya??

ernut said...

untuk surat dinas, saya suka arial, hurupnya besar dan cukup jelas karakternya...

Eka Situmorang-Sir said...

Pilih Georgia mbak! :)
btw pasang dunk fotonya Jason and Joshua..
hihihi penasaran deh

KK said...

mau menulis sesuatu tp ada yg menghambat

Rufadi Islah, S.Pd said...

saya suka ada sis informatifnya,.. salam kenal saja,............... rufadi.blogspot.com

Post a Comment